Minggu, 15 April 2018

Memaknai Hidup Ala Mendiang Steve Jobs

“You can’t connect the dots looking forward, you can only connect them looking backward” (Steve Jobs)
Dia telah meninggalkan kita hampir 6 tahun silam. Namun, Steven Paul “Steve” Jobs masih menandakan jejak karya yang merubah dunia teknologi sekarang. Kita tak akan pernah lupa, melalui Apple, Steve Jobs telah memberikan warna tersendiri dalam bisnis berbasis teknologi. Steve Jobs merupakan pembaharu teknologi yang berani memperkenalkan sebuah perangkat komputer yang tidak hanya canggih tapi tampil estetik. Dia pulalah pionir revolusi microcomputer yang selanjutnya diaplikasikan dalam mobile devices ataupun tablet. Dari tangan dinginnya lahirlah brand legendaris Ipod, Iphone, Ipad, dan Mac. Kesuksesan fenomenal itu tak terlepas dari perjalanan hidup dan perjuangan Steve yang panjang.
Tulisan ini saya rangkum dari pidato commencement Steve Jobs di Stanford University, sebuah perguruan tinggi elit yang sempat ia singgahi (akhirnya tidak lulus). Dalam pidato yang disampaikan tahun 2005 ini, Steve menceritakan perjuangan hidup dan memaknai segala yang telah dilaluinya. Dia memaparkan dalam 3 cerita:
1. Connecting the dots
Pada usia 17 tahun, Steve melanjutkan studi ke Universitas Stanford. Saat itu, dia merasa bersalah karena memilih universitas dengan biaya mahal. Setelah berjalan 6 bulan, Steve merasa tidak memperoleh manfaat dari kuliah yang dijalaninya itu kecuali hanya menghabiskan tabungan orang tua angkatnya. Dia juga merasa tidak ada yang menarik selama menjalani kuliah. Akhirnya, Steve memilih untuk drop out. Steve kemudian melanjutkan mengambil kelas kaligrafi di Reed College. Di sekolah tersebut dia belajar desain seni huruf indah, kombinasi huruf, hingga tipografi. Selama proses belajar itulah akhirnya Steve menemukan ketertarikannya pada bidang dimaksud.
10 tahun kemudian, ketika membuat desain komputer Macintosh pertama kali, Jobs menerapkan kemampuan seni tipografinya pada desaing Macintosh. Akhirnya, lahirlah komputer dengan desain tipografi indah pertama. Dari situlah, Steve Jobs menarik makna perjalanan hidupnya selama ini. “Jika saya tidak pernah keluar dari kuliah maka saya tidak akan mengikuti kursus seni itu, dan komputer tidak akan mempunyai tampilan yang indah seperti ini”, ujar Steve.
Steve menyimpulkan bahwa rangkaian kejadian hidupnya tidak mungkin dimaknai ketika dia menjalani kuliah. Segala hal itu hanya dapat dimaknai setelah ke belakang setelah 10 tahun berlalu.
You can’t connect the dots looking forward, yau can only connect them looking backward.
2. Love and loss
Apple didirikan oleh Steve Jobs dan sahabatnya Steve Wozniak tahun 1976. Diawali hanya dengan 2 orang dan berkantor di garasi. 10 Tahun kemudian, Apple tumbuh menjadi perusahaan yang memperkerjakan 4.000 orang dengan kekayaan $2 billion. Ironisnya, setelah satu decade itu Jobs justru dipecat dari Apple. Pasca kejadian itu, Steve Jobs sempat hampir frustasi. Hingga suatu saat dia merasakan ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan, yaitu dia mencintai apa yang selama ini dilakukan. Mulailah Steve mengulang kembali suatu pekerjaan dari awal. Lima tahun berikutnya, dia mendirikan perusahaan bernama NeXT dan Pixar. Pixar inilah yang selanjutnya memproduksi film animasi pertama Toy Story dan sekarang menjadi perusahaan animasi tersukses di dunia. Tak disangka, Apple akhirnya membeli NeXT dan kembalilah Jobs ke Apple. Teknologi yang dulu dikembangkan di NeXT telah menjadi teknologi yang diaplikasikan di Apple hingga saat ini.     
Kembali Steve Jobs mengungkapkan makna hidup dari kejadian-kejadian itu. “Terkadang hidup memberikan pukulan berat bagi kita. Janganlah hilang kepercayaan. Saya mencamkan bahwa satu hal yang membuat saya tetap bergerak adalah saya mencintai apa yang saya lakukan. Kamu harus dapat menemukan apa yang kamu cintai. Pekerjaanmu mengisi sebagian besar hidupmu, dan untuk menemukan kepuasan sesungguhnya percayailah bahwa kamu melakukan pekerjaan hebat. Dan untuk melakukan pekerjaan hebat adalah mencintai apa yang kamu kerjakan. Jika kamu belum menemukan apa yang kamu cintai, tetaplah mencarinya”. papar Jobs.  
Keep looking until you find it. Don’t settle…
3. Death
Tahun 2004, Steve Jobs didiagnosis menderita kanker pancreas. Dokter memprediksi usianya hanya bertahan 3 hingga 6 bulan. Sejak itu, dia hidup dengan diagnosis tersebut meskipun akhirnya prediksi batas usia itu tidakterbukti setelah operasi. Dari peristiwa yang menimpanya itu, Jobs memberikan pesan bahwa waktu kita sangat terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Dia menekankan agar kita tidak terjebak dalam dogma, menjalani hidup dari hasil pikirkan  orang lain. Mengingatkan kita agar tidak terganggu dari apa yang orang lain omongkan, yang dapat menenggelamkan suara hati kita (inner voice). Dan yang terpenting, berani mengikuti suara hati dan intuisi. 2 hal itulah yang suatu saat mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan.
And most important, have the courage to follow your heart and intuition…
Pelajaran berharga
Dari cerita Steve Jobs itu kita dapat menarik banyak nilai kehidupan. Memang bukan berarti kita meniru sepenuhnya apa yang Jobs lakukan. Bukan bearti kita harus berhenti sekolah untuk sukses, bukan seperti itu. Nilai-nilai yang dapat kita sarikan dari Jobs yaitu:
  1. Bagaimana kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, rangkaian hidup kita dari waktu-waktu yang telah berlalu, pasti mempunyai arti tertentu. Tuhan telah merencanakan segala sesuatu untuk kita. Kita berada di sini, menulis blog ini, bertemu dalam forum ini, pasti mempunyai keterkaitan dengan rangkaian kejadian dalam hidup kita sebelumnnya. Jika kita memantapkan dan meluruskan niat yang baik untuk setiap tahap hidup ini, semoga kebaikan yang akan kita peroleh.
  2. Melakukan sesuatu dengan kecintaan akan memberikan hasil yang luar biasa. Kita akan mampu bertahan hingga berkarya besar jika kita menikmati apa yang kita lakukan. Tidak ada kata menyerah untuk menemukan apa yang kita cintai itu.
  3. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga tapi waktu hidup kita mempunyai keterbatasan. Kita tidak akan tahu kapan Tuhan memanggil kita. Untuk itu, kesempatan hidup yang tersisa ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Syukur jika kita dapat melakukan hal besar. Jika tidak, setidaknya kita memberikan manfaat bagi orang-orang terdekat dengan kita.
Sekian, thank Jobs!

Salam Kompasiana…   
Artikel Pernah dimuat di: Kompasiana 

Ironi Yahoo! Tergulingnya Mantan Raja Internet

Yahoo! akhirnya laku dijual! $5bn, angka yang fantastis. Eits, bukan fantastis mahalnya, tapi murahnya! Harga tersebut dapat dikatakan ironi bagi bisnis sekaliber Yahoo. Mari kita lihat ke belakang, Yahoo, yang didirikan tahun 1994 oleh Jerry Yang dan David Filo, pada tahun 2000 diklaim bernilai $125bn. Saat itu bertepatan dengan boomingnya dot.com. Tahun 2008, raksasa bisnis software, Microsoft, berani menawar Yahoo seharga $44,6 bn. Tidak terjadi deal atas tawaran harga itu. 8 tahun kemudian, apa yang terjadi? Verizon, perusahaan telekomunikasi terbesar di AS, per 25 Juli 2016 resmi mengakuisisi Yahoo dengan cukup merogoh $4,8bn, ironis kan.
Beberapa hari ini, aksi korporasi Yahoo itu menjadi perhatian banyak pihak. Betapa tidak, rontoknya harga sebuah pioneer sekaligus mantan raja bisnis dot.com itu mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya. Bagi Kompasianer yang sudah mulai akrab dengan dunia internet sejak awal 2000 an pasti merasakan betapa besarnya pengaruh Yahoo dalam meroketkan bisnis dot.com. Dari mulai layanan email, search engine, maupun chat service, dominasi Yahoo sangat kentara. Memang, peristiwa itu tidak terlalu mengejutkan bagi mereka yang intensif mengamati pergerakan bisnis informasi teknologi beberapa tahun ini.
Yahoo tahun 2015 sudah mengalami net loss sebesar $4,4bn. Kerugian itu sangat tajam mengingat setahun sebelumnya, penghuni Silicon Valley ini, mampu meraup keuntungan bersih lebih dari $7 bn. Sayap bisnisnya seperti Yahoo Mail, Yahoo Finance, Tumblr dan Flickr seperti tidak berdaya mendongkrak keuntungan perusahaan. Layanan chat service Yahoo Messengger bahkan akan ditutup bulan Agustus mendatang. Dari sisi manajemen, Yahoo terlihat tidak stabil yang ditandai dengan seringnya pergantian CEO. Sepeninggal Jerry Yang tahun 2009, sudah terjadi 5 kali perubahan CEO. Terakhir adalah Marissa Mayer (mantan petinggi Google) yang mulai menjabat tahun 2012.
Tidak hanya itu, Yahoo kalah bersaing dengan para rivalnya seperti Google dan Facebook. Ekspansi bisnis yang dilakukan (pembelian Tumblr dan Flickr) tidak semenguntungkan apa yang dilakukan pesaing-pesaingnya. Google memiliki inovasi Android dan telah menguasai You Tube. Sedangkan Facebook sudah membeli Instagram dan Whatsapp. Yahoo kalah agresif dengan Google dan Facebook dalam peyisihan budget untuk pasar mobile online. Tahun lalu, Yahoo hanya menyisihkan 1,5% sedangkan Google dan Facebook masing-masing 35% dan 19%.
Analisis BBC, masalah terbesar Yahoo adalah  ketika mampu menampilkan iklan dalam jumlah besar, hal itu tidak diikuti dengan kejelasan target konsumennya. Berbeda dengan Google dan Facebook, mereka memiliki big data profil lengkap penggunanya. Alhasil, keduanya mampu mengenal penggunanya dengan baik sehingga dapat membaca kesesuaian iklan yang ditampilkan dengan target konsumennya. Dengan kata lain, pengolahan database pengguna dari Google dan Facebook jauh lebih baik dari Yahoo.
Nasib Serupa
Dalam era digital ini, Yahoo bukanlah satu-satunya perusahaan raksasa yang mengalami rise and fall. Sebutlah, Kodak, perusahaan kamera roll film legendaris sejak tahun 1888 dan pernah menduduki peringkat ke 5 dunia sebagai the most valuable brand tahun 1996, akhirnya menghadapi kenyataan pailit tahun 2013. Meski tidak separah Kodak, kejatuhan raksasa bisnis juga terjadi pada Nokia, pionir bisnis telepon seluler. Perusahaan yang sempat mencapai dominasi pasar hingga 41% pada tahun 2007, akhirnya dibeli oleh Microsoft (Windows Phone) dan hanya sanggup mencicipi 2,6% market share telepon seluler tahun 2015. Tak jauh berbeda dengan Nokia, BlackBerry, smartphone dengan fasilitas chat service gratis Blackberry Messenger, akhirnya lengser juga persaingan papan atas telepon pintar ketika pengguna beralih ke IPhone atau telepon genggam berbasis Android.
Lessons Learnt
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dinamika bisnis raksasa itu?
Ada kesamaan dari perusahaan-perusahaan itu, yaitu mereka pernah menjadi market leader atau setidaknya pioneer dari suatu produk. Keuntungan besar tentu pernah diraih pada periode masa kejayaannya. Namun, kita perlu menyoroti pula kesamaan pemicu masalahnya. Era digital mengharuskan perusahaan mempunyai kemampuan adaptif yang cepat seiring dengan economy on demand konsumen (efek dari aktivitas digital yang mempengaruhi kecenderungan orang untuk memperoleh segala sesuati dengan mudah dan nyaman). Perusahaan yang mengalami kejatuhan diawali dari keterlambatan atau lebih ekstrimnya keengganan melakukan adaptasi kebutuhan pasar.
Kodak tidak mengantisipasi munculnya kamera digital yang tidak lagi membutuhkan film. Nokia dan Blackberry tidak peka menyesuaikan platform-nya baik dari sisi Operating System (OS) maupun kenyamanan pengguna mengunduh aplikasi yang ditawarkan. Android dan IOS lah yang mampu menangkap trend kebutuhan dan keinginan pengguna dalam memaksimalkan pemanfaatan perangkat genggamnya.
Lalu, bagaimana dengan Yahoo? permasalahan yang dihadapi sepertinya tidak berbeda jauh dengan perusahaan raksasa lain yang telah tiarap. Yahoo cenderung lambat berinovasi setelah menikmati masa kejayaan di era awal 2000 an. Berbeda dengan pesaingnya, sebut saja Google, yang sangat cepat dalam menciptakan varian produk layanannya, seperti email (Gmail), fitur online map (Google Map), layanan cloud computing (Google Drive), kamus canggih (online dictionary).
Yahoo juga kalah jeli untuk melakukan akuisisi terhadap perusahaan digital lainnya. Sebut saja pembelian dua layanan media social Flickr dan Tumblr. Dua layanan tersebut tidak memiliki segmen pengguna seluas You Tube (Google) atau Facebook dengan Instagram dan Whatsapp-nya.                 
Akhirnya, dapat disimpulkan, di era booming ekonomi digital ini dinamika konsumen sangat tinggi. Perubahan keinginan atau trend dapat terjadi dengan sangat cepat dan mungkin tidak terprediksi sebelumnya. Pelaku bisnis digital tidak dapat menentang arus itu, yang jelas dapat dilakukan adalah kemampuan beradaptasi yang tinggi. Mampu membaca arah pergerakan penikmat teknologi informasi dengan sigap. Yahoo belum habis, masih ada sisa kekuatan dan tambahan kekuatan baru yang diharapkan dapat memulihkan kondisi kejayaannya.   
Salam Kompasiana

Tulisan pernah dimuat di Kompasiana