Senin, 04 Mei 2020

WFH Sebagai Pembelajaran Untuk Lebih Baik

Own Your Morning, Elevate Your Life, pesan dari penulis Robin Sharma dalam bukunya The 5 am Club untuk menggambarkan kekuatan orang yang bangun pagi.
Adakah kaitan jargon itu dengan Work From Home (WFH) yang sedang kita jalani saat pendemi Covid-19 ini? Jawabannya, ada banget.
Bangun pagi semestinya sudah menjadi rutinitas kita, tidak istimewa lagi. Tapi, apa yang ada dalam benak kita sesaat setelah sadar dari istirahat malam itu? muncul deretan pertanyaan: “bagaimana berangkat ke kantor? macet kah? lewat jalur mana? Rush hour is waiting for me”. Kekhawatiran yang akhirnya merusak mood dan kekhusyukan kita di awal hari. Alhasil, memulai pagi dengan suasana hati yang tidak baik dapat merusak seluruh hari itu.    
Semua keresahan hilang semenjak kebijakan bekerja dari rumah diberlakukan. Terlepas dari himpitan waktu di jalan menuju tempat kerja, kita pun dapat menyambut pagi dengan suasana berbeda. Karena hati tenang maka ibadah pagi pun menjadi lebih khusyuk, sarapan terasa nikmat, dan tidak kalah pentingnya rencana hidup dalam sehari itu dapat lebih tertata! Nah, di sinilah kita bisa memiliki victory hours, kesempatan dimana kita bisa menguasai waktu bukan dikuasai waktu.  
Kembali pada pokok bahasan WFH, saya menilai ada beragam hal menarik dan tentunya bermanfaat dari cara kerja di rumah ini.
Pertama, adanya waktu cukup untuk berkontemplasi. Pagi hari, adalah saat yang paling tepat untuk melakukan evaluasi diri. Suasana yang hening membuat kita dapat berpikir lebih jernih sehingga mampu membersihkan hati dan memperbaiki mindset terhadap kehidupan. Hal itu dapat dilakukan setelah ibadah pagi (ingat, kita tidak sedang diburu waktu berangkat kerja). Setelah kontemplasi, pikiran dan hati akan lebih tenang sehingga membawa kesiapan menghadapi tantangan pekerjaan.
Kedua, memiliki kesempatan untuk lebih memperdulikan kesehatan tubuh. Selesai berkontemplasi, kita dapat melakukan aktivitas olahraga ringan di rumah. Tentu, sebelumnya bukan hal mudah menyempatkan diri olahraga di pagi hari karena keharusan meninggalkan rumah sebelum matahari terbit. Adanya kesempatan WFH semestinya tidak kita abaikan aktivitas sederhana yang mempunyai dampak besar itu. Kesehatan adalah modal utama kita untuk bekerja dengan optimal. Intermeso, nggak lucu juga jika sekarang kita korbankan fisik untuk materi, sekian tahun mendatang kita korbankan materi untuk fisik (berobat).
Terakhir, jika jiwa sudah disegarkan lewat kontemplasi dan raga telah dibugarkan dengan olahraga maka kerja pun sudah bisa dimulai. Karena di rumah, kita bisa menyamankan diri untuk memilih cara dan tempat kerja. Kita tidak lagi duduk kaku di bangku kerja namun bisa mengambil posisi santai di sofa sambil memangku laptop. Kita tidak lagi terkurung di kubikal tetapi bisa memilih kamar atau ruang lain yang nyaman. Dengan demikian, kita bisa memperoleh suasana baru, fleksibel, dan serasa bekerja di co-working space yang dipercaya dapat mendorong produktivitas dan kreativitas.

WFH dan Produktivitas
Dengan berbagai kenyamanannya, apakah WFH ini membuat pegawai terlena atau justru sebaliknya? Saya berpandangan WFH tidak menganggu produktivitas bahkan dapat meningkatkannya jika kita pintar memanfaatkannya. Coba Anda renungkan, ketika di kantor, apakah ada jaminan kita bisa bekerja penuh sepanjang hari? Rasanya sulit. Seringkali gangguan/ distraction muncul tiba-tiba, misalnya rekan kerja mengajak ngobrol atau diskusi sesuatu yang tidak terkait pekerjaan dan parahnya, tidak berkesudahan. Atau, adanya undangan rapat yang tidak substansial sehingga menyita waktu kerja berjam-jam.
Selama WFH, semua aktivitas kontraproduktif dapat dihindari. Obrolan atau rapat berlebihan bisa dikurangi karena keterbatasan interaksi face to face dan jika dilakukan secara digital akan menimbulkan kompensasi biaya tinggi. Untuk itu, kita bisa langsung melakukan pekerjaan pokok dengan lebih fokus. Dengan bekerja secara fokus, kita bisa mendisiplinkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai workplan. Hasilnya, efisiensi dan efektivitas bekerja tercapai yang pada akhirnya kualitas pekerjaan pun lebih terjamin.
Sebagai tambahan, WFH menjadikan kita makin berpikir kreatif untuk tetap produktif di tengah keterbatasan. Kita menjadi makin adapif dengan pemanfaatan beraneka teknologi yang menjembatani alur pekerjaan. Misalnya, online meeting dan digitalisasi dokumen yang merupakan sesuatu baru, kini makin menyatu dengan kita. Dapat dikatakan, saat ini menjadi momentum terbaik bagi pegawai Bank Indonesia untuk membiasakan diri dengan ragam digital workplace. Ke depan, bukan mustahil cara kerja semacam itu menjadi new normal bagi kita. Sekali lagi, produktivitas kerja tetap terjaga dengan terobosan tersebut.    

Sisi lain WFH
Melihat alur kehidupan yang lebih teratur dan produktivitas yang terjaga selama bekerja di rumah, kita jadi memiliki kesempatan mengintegrasikan aspek profesional dan personal. Sebagaimana pernah disampaikan Jeff Bezos, CEO Amazon, jika kita bahagia pada saat bekerja maka akan berimbas pada kebahagiaan di keluarga, dan sebaliknya. Itulah yang disebut harmonisasi pekerjaan dan kehidupan yang dapat mengantarkan kesuksesan pada kedua hal tersebut.
Selama berkarir, mungkin banyak diantara kita tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Dengan WFH ini, kita bisa mengharmonisasikan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pemberlakuan larangan aktivitas di luar menjadikan pasangan dan anak juga tinggal di rumah sehingga intensitas interaksi keluarga meningkat.
Contoh pengalaman pribadi, meskipun berbeda kota dengan anak, saya memiliki waktu lebih banyak untuk berkomunikasi dengan mereka (secara digital) semenjak WFH. Saya juga menjadi guru dadakan mereka selama learn from home dengan menyusun kuis yang dikirimkan dan diselesaikan pula secara digital (melalui Google Form Quiz). Istimewanya, semua itu saya lakukan sembari menyelesaikan tugas pekerjaan. Jadi, sukses mendidik anak dan beres dalam pekerjaan. 
Di samping pekerjaan dan kehidupan pribadi, kita juga dapat memproduktifkan peran dalam kehidupan sosial. Tidak adanya aktivitas ke kantor, secara finansial menghemat pengeluaran biaya transportasi kita. Selain itu, sebagai pegawai kita juga masih memperoleh penghasilan rutin. Kelebihan rezeki yang kita miliki tersebut dapat disisihkan untuk membantu pihak yang menjadi korban pendemi Covid-19. Jadi, meskipun tinggal di rumah, peran kita untuk turut menyelesaikan persoalan sosial masih ada.

Hikmah WFH
Dengan adanya WFH ini, kita dapat memetik hikmah dari berbagai sisi kehidupan. Diawali dengan datangnya kesempatan untuk mengatur kehidupan pagi yang menaikan kualitas spiritual (ibadah dan kontemplasi) dan memperbaiki kondisi fisik (mempunyai waktu berolahraga). Kesemuanya itu memperkuat kesiapan diri melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Selanjutnya, kesiapan yang matang menjadikan kita bekerja lebih efektif, efisien, dan kreatif.
Di luar pekerjaan, hal lain yang tidak terduga, kita dapat memperkuat rekatan hubungan dengan keluarga. Terutama, menumbuhkan peran orang tua yang tidak sekedar menafkahi anak tetapi juga memposisikan diri sebagai guru pendidik bagi mereka. Terakhir, kesempatan kita untuk menempatkan diri guna berperan menyelesaikan permasahan sosial terbentang luas.
Mengenai kapan persoalan ini akan selesai, tidak ada seorang pun bisa menjawabnya. Satu hal yang perlu kita pegang adalah tetap mensyukuri peluang-peluang yang masih ada untuk melakukan banyak hal baik selama WFH ini. Itulah kekuatan besar kita untuk tetap bertahan, sejalan pesan Eckhart Tolle penulis The Power of Now, acknowledging the good that you already have in your life is the foundation for all abundance.  
       
#worldbookday #shareamillionstories #digitallearning                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar