Senin, 04 Mei 2020

WFH Sebagai Pembelajaran Untuk Lebih Baik

Own Your Morning, Elevate Your Life, pesan dari penulis Robin Sharma dalam bukunya The 5 am Club untuk menggambarkan kekuatan orang yang bangun pagi.
Adakah kaitan jargon itu dengan Work From Home (WFH) yang sedang kita jalani saat pendemi Covid-19 ini? Jawabannya, ada banget.
Bangun pagi semestinya sudah menjadi rutinitas kita, tidak istimewa lagi. Tapi, apa yang ada dalam benak kita sesaat setelah sadar dari istirahat malam itu? muncul deretan pertanyaan: “bagaimana berangkat ke kantor? macet kah? lewat jalur mana? Rush hour is waiting for me”. Kekhawatiran yang akhirnya merusak mood dan kekhusyukan kita di awal hari. Alhasil, memulai pagi dengan suasana hati yang tidak baik dapat merusak seluruh hari itu.    
Semua keresahan hilang semenjak kebijakan bekerja dari rumah diberlakukan. Terlepas dari himpitan waktu di jalan menuju tempat kerja, kita pun dapat menyambut pagi dengan suasana berbeda. Karena hati tenang maka ibadah pagi pun menjadi lebih khusyuk, sarapan terasa nikmat, dan tidak kalah pentingnya rencana hidup dalam sehari itu dapat lebih tertata! Nah, di sinilah kita bisa memiliki victory hours, kesempatan dimana kita bisa menguasai waktu bukan dikuasai waktu.  
Kembali pada pokok bahasan WFH, saya menilai ada beragam hal menarik dan tentunya bermanfaat dari cara kerja di rumah ini.
Pertama, adanya waktu cukup untuk berkontemplasi. Pagi hari, adalah saat yang paling tepat untuk melakukan evaluasi diri. Suasana yang hening membuat kita dapat berpikir lebih jernih sehingga mampu membersihkan hati dan memperbaiki mindset terhadap kehidupan. Hal itu dapat dilakukan setelah ibadah pagi (ingat, kita tidak sedang diburu waktu berangkat kerja). Setelah kontemplasi, pikiran dan hati akan lebih tenang sehingga membawa kesiapan menghadapi tantangan pekerjaan.
Kedua, memiliki kesempatan untuk lebih memperdulikan kesehatan tubuh. Selesai berkontemplasi, kita dapat melakukan aktivitas olahraga ringan di rumah. Tentu, sebelumnya bukan hal mudah menyempatkan diri olahraga di pagi hari karena keharusan meninggalkan rumah sebelum matahari terbit. Adanya kesempatan WFH semestinya tidak kita abaikan aktivitas sederhana yang mempunyai dampak besar itu. Kesehatan adalah modal utama kita untuk bekerja dengan optimal. Intermeso, nggak lucu juga jika sekarang kita korbankan fisik untuk materi, sekian tahun mendatang kita korbankan materi untuk fisik (berobat).
Terakhir, jika jiwa sudah disegarkan lewat kontemplasi dan raga telah dibugarkan dengan olahraga maka kerja pun sudah bisa dimulai. Karena di rumah, kita bisa menyamankan diri untuk memilih cara dan tempat kerja. Kita tidak lagi duduk kaku di bangku kerja namun bisa mengambil posisi santai di sofa sambil memangku laptop. Kita tidak lagi terkurung di kubikal tetapi bisa memilih kamar atau ruang lain yang nyaman. Dengan demikian, kita bisa memperoleh suasana baru, fleksibel, dan serasa bekerja di co-working space yang dipercaya dapat mendorong produktivitas dan kreativitas.

WFH dan Produktivitas
Dengan berbagai kenyamanannya, apakah WFH ini membuat pegawai terlena atau justru sebaliknya? Saya berpandangan WFH tidak menganggu produktivitas bahkan dapat meningkatkannya jika kita pintar memanfaatkannya. Coba Anda renungkan, ketika di kantor, apakah ada jaminan kita bisa bekerja penuh sepanjang hari? Rasanya sulit. Seringkali gangguan/ distraction muncul tiba-tiba, misalnya rekan kerja mengajak ngobrol atau diskusi sesuatu yang tidak terkait pekerjaan dan parahnya, tidak berkesudahan. Atau, adanya undangan rapat yang tidak substansial sehingga menyita waktu kerja berjam-jam.
Selama WFH, semua aktivitas kontraproduktif dapat dihindari. Obrolan atau rapat berlebihan bisa dikurangi karena keterbatasan interaksi face to face dan jika dilakukan secara digital akan menimbulkan kompensasi biaya tinggi. Untuk itu, kita bisa langsung melakukan pekerjaan pokok dengan lebih fokus. Dengan bekerja secara fokus, kita bisa mendisiplinkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai workplan. Hasilnya, efisiensi dan efektivitas bekerja tercapai yang pada akhirnya kualitas pekerjaan pun lebih terjamin.
Sebagai tambahan, WFH menjadikan kita makin berpikir kreatif untuk tetap produktif di tengah keterbatasan. Kita menjadi makin adapif dengan pemanfaatan beraneka teknologi yang menjembatani alur pekerjaan. Misalnya, online meeting dan digitalisasi dokumen yang merupakan sesuatu baru, kini makin menyatu dengan kita. Dapat dikatakan, saat ini menjadi momentum terbaik bagi pegawai Bank Indonesia untuk membiasakan diri dengan ragam digital workplace. Ke depan, bukan mustahil cara kerja semacam itu menjadi new normal bagi kita. Sekali lagi, produktivitas kerja tetap terjaga dengan terobosan tersebut.    

Sisi lain WFH
Melihat alur kehidupan yang lebih teratur dan produktivitas yang terjaga selama bekerja di rumah, kita jadi memiliki kesempatan mengintegrasikan aspek profesional dan personal. Sebagaimana pernah disampaikan Jeff Bezos, CEO Amazon, jika kita bahagia pada saat bekerja maka akan berimbas pada kebahagiaan di keluarga, dan sebaliknya. Itulah yang disebut harmonisasi pekerjaan dan kehidupan yang dapat mengantarkan kesuksesan pada kedua hal tersebut.
Selama berkarir, mungkin banyak diantara kita tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Dengan WFH ini, kita bisa mengharmonisasikan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pemberlakuan larangan aktivitas di luar menjadikan pasangan dan anak juga tinggal di rumah sehingga intensitas interaksi keluarga meningkat.
Contoh pengalaman pribadi, meskipun berbeda kota dengan anak, saya memiliki waktu lebih banyak untuk berkomunikasi dengan mereka (secara digital) semenjak WFH. Saya juga menjadi guru dadakan mereka selama learn from home dengan menyusun kuis yang dikirimkan dan diselesaikan pula secara digital (melalui Google Form Quiz). Istimewanya, semua itu saya lakukan sembari menyelesaikan tugas pekerjaan. Jadi, sukses mendidik anak dan beres dalam pekerjaan. 
Di samping pekerjaan dan kehidupan pribadi, kita juga dapat memproduktifkan peran dalam kehidupan sosial. Tidak adanya aktivitas ke kantor, secara finansial menghemat pengeluaran biaya transportasi kita. Selain itu, sebagai pegawai kita juga masih memperoleh penghasilan rutin. Kelebihan rezeki yang kita miliki tersebut dapat disisihkan untuk membantu pihak yang menjadi korban pendemi Covid-19. Jadi, meskipun tinggal di rumah, peran kita untuk turut menyelesaikan persoalan sosial masih ada.

Hikmah WFH
Dengan adanya WFH ini, kita dapat memetik hikmah dari berbagai sisi kehidupan. Diawali dengan datangnya kesempatan untuk mengatur kehidupan pagi yang menaikan kualitas spiritual (ibadah dan kontemplasi) dan memperbaiki kondisi fisik (mempunyai waktu berolahraga). Kesemuanya itu memperkuat kesiapan diri melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Selanjutnya, kesiapan yang matang menjadikan kita bekerja lebih efektif, efisien, dan kreatif.
Di luar pekerjaan, hal lain yang tidak terduga, kita dapat memperkuat rekatan hubungan dengan keluarga. Terutama, menumbuhkan peran orang tua yang tidak sekedar menafkahi anak tetapi juga memposisikan diri sebagai guru pendidik bagi mereka. Terakhir, kesempatan kita untuk menempatkan diri guna berperan menyelesaikan permasahan sosial terbentang luas.
Mengenai kapan persoalan ini akan selesai, tidak ada seorang pun bisa menjawabnya. Satu hal yang perlu kita pegang adalah tetap mensyukuri peluang-peluang yang masih ada untuk melakukan banyak hal baik selama WFH ini. Itulah kekuatan besar kita untuk tetap bertahan, sejalan pesan Eckhart Tolle penulis The Power of Now, acknowledging the good that you already have in your life is the foundation for all abundance.  
       
#worldbookday #shareamillionstories #digitallearning                              

Jumat, 13 Juli 2018

Two Sides of Social Media


Social media is blamed as a source of various social problems. It is true that social media has contributed to connect people easily. However, should many negative issues rise since the use of it more intensive, I consider social media potentially lead to many matters.

The initial purpose of social media is connecting people. There are eases of build relationship through social media. People are able to reunite with their old friends. We can contact our relatives who live far away. Social media users may interact with others who have typical interests. Moreover, nowadays social media is harnessed for advertise some goods and services. Those positive impacts show that social media has influence to our life. It reshapes social interaction in the modern life through digital channel.

However, the advantages of social media are followed by its drawbacks. In many cases, social media platforms are functioned for improper purposes. Many terrorist groups claim that they provoke and recruit new members through social media. Moreover, in recent months, we witness a lot of fake news that support black campaign in the social media. Privacy protection is another issue that exacerbates social media use. Control social media uses are complicated due to the problems are widespread against many life aspects as those foregoing facts. Governments around the world have noticed it but most of them have not deal with those matters successfully. As a result, social media could threat social harmonization in real life. The future impacts might immeasurable.

In summary, social media creates the new way to interact each other. Nonetheless, we must not deny that the detrimental effects follow it. Prohibit the use of it is impossible therefore control and manage it are the appropriate solutions. The ultimate goal is drive social media to a positive part of human society life.

Selasa, 26 Juni 2018

Mereka di Balik Kesuksesan Proklamasi



Sejarah mencatat dengan tinta emas Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta sebagai proklamator kemerdekaan RI. Keduanya diabadikan sebagai pahlawan nasional yang memiliki jasa luar biasa besar melahirkan kembali bangsa Indonesia sebagai bangsa merdeka. Dibalik peristiwa proklamasi, Dwi tunggal sukarno Hatta tidaklah bekerja sendiri. Mereka didukung oleh para loyalis bangsa yang mempunyai satu tujuan yaitu Indonesia merdeka.

Mereka di Balik Layar

Peristiwa proklamasi memang menyimpan banyak cerita yang sarat makna. Tindakan-tindakan cerdas dalam kondisi yang sangat mendesak dilakukan oleh para revolusiner. Sekelompok aktivis kemerdekaan yang masih berusia muda langsung peka setelah memperoleh berita tundukknya dai Nippon terhadap sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Mereka berinisiatif mengusulkan proklamasi segera dikumandangkan untuk menghindari kesan bahwa kemerdekaan adalah hadiah dari Jepang.

Di sinilah menariknya, para pemuda yang masih bergelora dan ingin serba cepat itu berdebat dengan generasi seniornya yang cenderung banyak pertimbangan. Yang muda mendesak Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai golongan senior, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI. Perdebatan diakhiri dengan putusan golongan muda untuk ‘menculik’ Sukarno dan Hatta untuk diamankan ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945.

Tujuan penculikan adalah menjauhkan Sukarno dan Hatta dari pengaruh Jepang yang masih kuat saat itu. Tindakan cepat para tokoh muda itu berakhir indah. Teks proklamasi akhirnya dibacakan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945.

Orang-orang di belakang layar proklamasi itu memiliki peran besar dalam mensukseskan momentum paling bersejarah bangsa ini. Mereka rata-rata adalah tokoh politik muda yang tergabung dalam perkumpulan Menteng 31 dan para revolusioner senior. Berikut tokoh-tokoh dimaksud dan perjalanan singkat hidupnya:

Sutan Syahrir

Si bung kecil julukannya. Sahabat Bung Hatta selama pembuangan di Banda Naira ini adalah orang yang memperoleh berita menyerahnya Jepang terhadap sekutu dari siaran radio luar negeri tanggal 15 Agustus 1945. Dari situlah, dengan dukungan para pemuda, Syahrir mendesak Sukarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Pasca kemerdekaan, Syahrir yang masih berusia 36 tahun diangkat menjadi perdana menteri pertama di Indonesia dan sekaligus perdana menteri termuda di dunia. Dia membentuk Kabinet Syahrir I dan II. Pada periode kedua itulah Syahrir dipercaya Sukarno mewakili Indonesia dalam Perjanjian Linggarjati. Syahrir juga mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948.

Sayang sekali, pasca peristiwa pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958, hubungan Syahrir dengan Sukarno tidak lagi harmonis. Syahrir dipenjara dari tahun 1962-1965 dan meninggal saat berobat di Swiss tahun 1966. Namanya terdaftar sebagai pahlawan nasional pada tahun 1966.

Sukarni

Dia adalah pimpinan kelompok pemuda yang berinisiatif menculik Sukarno dan Hatta. Dalam penyusunan teks proklamasi, Sukarni lah yang mengusulkan penulisan kalimat ‘Atas nama Bangsa Indonesia, Sukarno-Hatta’.

Setelah proklamasi kemerdekaan, dia menjabat sebagai ketua umum Partai Murba. Tahun 1961-1964, Sukarni menjabat sebagai duta besar di Peking, ibu kota Republik Rakyat Tiongkok. Perbedaan pandangan politik dengan Sukarno akhirnya membawa Sukarni masuk ke penjara menjadi tahanan politik. Pada masa Orde Baru, Sukarni dibebaskan dan ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung tahun 1967. Dia juga memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra. Tokoh muda itu wafat tahun 1971 namun baru ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 2014.

Achmad Soebardjo

Achmad Soebardjo termasuk dalam golongan senior. Dialah yang mewakili golongan tua untuk berdialog dengan golongan muda mengenai rencana proklamasi. Bersama Sukarno dan Hatta, dia juga turut menyusun naskah proklamasi.

Pasca proklamasi Achmad Soebardjo diangkat menjadi menteri luar negeri dan selanjutnya menjadi duta besar Swiss. Dia wafat pada tahun 1978 dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 2009.

Wikana

Karena koneksi Wikana dengan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), teks proklamasi dapat dirumuskan di rumah Laksamana Maeda di Menteng. Dia jugalah yang mengatur semua keperluan pembacaan teks proklamasi di Pegangsaan 56.

Pasca proklamasi kemerdekaan, Wikana ditarik oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk menjadi Menteri Negara Urusan Negara. Dia juga sempat menjadi anggota MPRS. Wikana bergabung dengan PKI dan sempat menjadi pimpinan PKI bawah tanah. Tahun 1966, sekelompok orang berseragam tentara meringkus Wikana. Dia termasuk tokoh yang menghilang dan diduga meninggal dibunuh pada peristiwa pasca G30S PKI.

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh merupakan bagian dari kelompok pemuda yang turut mempelopori penculikan Sukarno dan Hatta.

Pasca kemerdekaan, karir Chaerul cukup cemerlang diantaranya yaitu menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Veteran pada Kabinet Djuanda (1956) dan menjadi Wakil Perdana Menteri III (1963). Namun, akhir karir Chaerul kurang menguntungkan karena pada masa pemerintahan Suharto (1966) Ia ditangkap sebab dianggap mendukung kebijakan Sukarno yang pro-komunis. Chaerul Saleh meninggal tahun 1967 dengan status tahanan politik.

Sayuti Melik

Sayuti Melik adalah pengetik teks proklamasi yang telah disusun Sukarno cs. Pada saat melakukan pengetikan itulah dia merubah beberapa kalimat dalam teks proklamasi yang ditulis Sukarno. Profesi Sayuti Melik sendiri adalah sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya yang tajam menjadikannya sering menjadi tahanan politik. Sebagai aktivis politik dia pernah menjadi anggota MPRS dan DPR-GR. Karena prestasinya, Sayuti Melik memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Sukarno dan Presiden Suharto.

BM Diah

Tanpa kesigapan BM Diah mungkin dokumen teks asli proklamasi tidak dapat menjadi bukti sejarah. Ya, dialah pemuda yang menyimpan teks proklamasi setelah diketik Sayuti Melik. BM Diah menyerahkan teks tersebut kepada pemerintah pada tahun 1992.

Karir dan hidupnya sangat cerah pasca kemerdekaan. Dia menjabat duta besar pada beberapa Negara yaitu Cekoslowakia, Hungaria, Inggris dan Thailand. Dia juga menjadi pengusaha sukses di bidang perhotelan.

Suwiryo

Dialah orang yang bertanggung jawab atas terselenggaranya proklamasi di rumah Bung Karno. Suwiryo saat itu menjabat sebagai wakil wali kota Jakarta. Setelah kemerdekaan, Suwiryo diangkat oleh Sukarno menjadi Walikota Jakarta Raya. Dia juga sempat memegang berbagai jabatan penting seperti wakil perdana menteri kabinet Sukiman-Suwiryo, komisaris bank, ketua PNI, anggota MPRS dan DPA.

Adam Malik

Peran Adam Malik adalah ikut serta membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok bersama tokoh pemuda lainnya. Dia juga menggerakkan rakyat untuk berkumpul di lapangan Ikada guna mendukung kepemimpinan Soekarno Hatta. Sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat, Adam Malik bertugas menyiapkan susunan pemerintahan pasca kemerdekaan.

Selama hidupnya, Adam Malik merupakan tokoh yang memperoleh posisi kenegaraan penting dalam orde lama maupun orde baru. Jabatan menteri hingga terakhir wakil presiden RI III pernah diamanatkan padanya.

‘Mereka Yang (Hampir) Terlupakan’

Selain tokoh-tokoh pergerakan politik yang telah saya sebutkan, ada juga orang-orang lainnya yang memang sejarah tidak mencatatnya sebagai tokoh politik pergerakan nasional tapi berperan penting dalam prosesi proklamasi. Berikut para ‘pahlawan (hampir) terlupakan itu’:

Fatmawati

Fatmawati adalah istri Bung Karno sekaligus Ibu Negara I Indonesia. Fatmawati merupakan penjahit bendera merah putih pertama. Bendera itu selanjutnya disimpan menjadi bendera pusaka.

Latief Hendraningrat (PETA), Suhud, dan SK Tri Murti (istri Sayuti Melik)

Setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan, prosesi pengibaran bendera dilakukan oleh Latief Hendraningrat, Suhud, dan SK Tri Murti.

Frans Mendur dan Alex Mendur

Mendur bersaudara adalah fotografer jurnalis yang mengabadikan rangkaian kegiatan proklamasi kemerdekaan saat itu. Sejarah hampir melupakan 2 orang Mendur bersaudara ini. Tanpa mereka, kita tidak akan pernah memperoleh gambar visual momentum pembacaan teks proklamasi.

Yusuf Ronodipuro

Yusuf Ronodipuro adalah wartawan radio militer Jepang di Jakarta (Hoso Kyoku). Dialah orang yang menyiarkan berita proklamasi lewat siaran mancanegara. Atas keberaniannya itu, radio-radio internasional seperti BBC London, radio di Amerika, dan Negara-negara lain dapat memperoleh informasi kemerdekaan Indonesia.

Laksamana Maeda

Laksamana Muda Maeda Tadashi adalah perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Perannya dalam proklamasi kemerdekaan adalah meminjamkan rumahnya di Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta sebagai lokasi penyusunan teks proklamasi. Dia jugalah yang menyediakan segala perlengkapan untuk pengetikan teks proklamasi.

Djiaw Kie Siong

Dia adalah petani kecil keturunan Tionghoa yang meminjamkan rumahnya di Rengasdengklok untuk Bung Karno dan Bung Hatta setelah ‘diculik’ para pemuda. Sejarah nyaris melupakan jasanya.

***

Itulah beberapa orang dibalik keberhasilan peristiwa proklamasi kemerdekaan. Saya katakan ‘beberapa’ karena mungkin masih banyak lagi tokoh-tokoh berjasa lainnya yang belum saya ketahui dan tertulis di sini.

Dari tulisan singkat ini kita dapat membaca bahwa perjalanan hidup para penggerak proklamasi kemerdekaan sangat beragam. Ada diantara mereka yang menutup usia dengan catatan indah sebagai pahlawan nasional. Namun, tidak sedikit pula diantara mereka yang mengakhiri karir kenegarawannya sebagai bagian sejarah kelam bangsa.

Proses dan pandangan politik pasca kemerdekaan telah memisah-pisahkan jalan hidup para tokoh proklamasi. Apapun jalan akhir yang mereka tempuh, dalam suatu periode perjuangan, orang-orang tersebut pernah mencurahkan jiwa raganya untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa ini. Kita tetap wajib menghargai apa yang telah mereka lakukan dan berikan untuk bumi pertiwi tercinta, Indonesia.

Salam Kompasiana…

Sumber: 1 2 3 45


Artikel pernah dimuat di Kompasiana

Mengungkap 9 Kisah Unik Seputar Peristiwa Proklamasi



Segala hal terkait dengan sejarah RI sangat menarik bagi saya. Kisah sejarah di tanah air ini seakan seorang manusia yang masih dalam tahap pertumbuhan. Cerita yang ada terus berkembang seiring dengan bangkitnya fakta-fakta baru yang terkubur puluhan tahun. Ceritanya pun selalu dinamis dan seringkali terbawa pengaruh kekuatan politik yang sedang berkuasa.

Seorang pakar sejarah mengatakan bahwa bukti perjalanan sejarah negeri kita memang masih sedikit dan terbatas. Berbagai dokumentasi tersebar ke berbagai pihak hingga ke negara lain dan ada pula yang dikategorikan sebagai dokumen rahasia negara (entah apa alasannya).

Tak terkecuali salah satu momentum sakral perjalanan bangsa ini, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Banyak hal menarik yang mulai terungkap satu per satu ke publik seputar peristiwa paling bersejarah tersebut. Dari hal-hal yang serius hingga jenaka, semuanya memberikan kesan mendalam. Berikut beberapa fakta unik yang saya kumpulkan dari berbagai sumber:

1. Mesin Tik Pinjaman Nazi
Mesin tik yang digunakan untuk menyusun naskah Proklamasi merupakan milik serdadu Nazi yang bernama Korvettenkapitän Dr. Hermann Kendeler. Cerita berawal dari rumah Laksamana Maeda yang hanya memiliki mesin tik kanji. Atas ide ajudan Maeda, dipinjamlah mesin tik huruf Latin yang ada di Kantor perwakilan Kriegesmarine (Angkatan Laut Jerman).

2. Sayuti Melik Mengubah Naskah Asli Sukarno
Sayuti Melik adalah tokoh muda yang diperintahkan Soekarno untuk mengetik teks proklamasi yang telah ditulis tangan. Sayuti Melik mengubah beberapa kata dan kalimat seperti “tempoh' menjadi 'tempo”, “wakil-wakil Bangsa Indonesia" diganti “atas nama Bangsa Indonesia” dengan menambahkan "Soekarno-Hatta”. Dia berani mengubah penulisan tersebut karena ia pernah sekolah guru dan merasa lebih mengetahui ejaan Bahasa Indonesia dari pada Soekarno. Ada pula yang berpendapat bahwa perubahan itu dikarenakan adanya perdebatan antara kelompok Sjahrir dan Hatta yang menyusun teks. Hatta sempat mengusulkan proklamasi kemerdekaan ala Amerika yang ditandatangani semua yang hadir. Usulan tersebut tidak diterima, dan akhirnya penandatangan teks proklamasi hanya Soekarno dan Hatta atas usul tokoh muda Sukarni.

3. Apa Maksud dari “Djakarta, Hari 17 Boelan 8 Tahoen 05?”
Angka tahun 05 adalah singkatan dari 2605 tahun showa Jepang yang sama dengan tahun 1945.

4. Naskah Proklamasi Tulisan Sukarno Sempat Dibuang
Ada perbedaan mengenai nasib teks asli proklamasi tulisan tangan Bung Karno. Versi pertama adalah teks dibiarkan oleh Sayuti Melik di meja ketik karena terburu-buru yang kemudian diamankan BM Diah. Sedangkan versi kedua menyebutkan Soekarno membuang teks asli namun dipungut oleh BM Diah. Versi kedua ini lebih menarik untuk dibahas, mengapa Soekarno membuang teks proklamasi? JJ Rizal (sejarawan) mengutarakan bahwa Bung Karno ingin memutus segala macam perdebatan dalam proses penyusunan teks. Pada saat penyusunan, ada peran Jepang dalam perdebatan tersebut. Menurut JJ Rizal, teks dibuang karena Bung Karno ingin menghilangkan dugaan pengaruh Jepang dalam coretan teks atau Sang Proklamator ingin menegaskan bahwa, “Kita sudah selesai dengan segala perdebatan dan kita mengarah pada satu cita-cita bersama”.

5. Bendera Pusaka Bukan dari Kain Sprei
Sempat beredar kabar bahwa Fatmawati menjahit kain bendera warna putih dari kain sprei, warna merahnya dari kain tenda warung soto. Kebenaran cerita tersebut tidak dapat dikonfirmasikan. Yang jelas, dalam buku 'Catatan Kecil Bersama Bung Karno', Fatmawati menceritakan bahwa kain merah-putih diperoleh dari seorang perwira Jepang yang bernama Chairul Basri. Chairul sendiri menyerahkan kain itu kepada Fatmawati atas perintah dari orang Jepang bernama Hitoshi Shimizu. Hitoshi mendapatkan kain itu dari sebuah gudang Jepang di kawasan Pintu Air, Jakarta Pusat.

6. Suara Proklamasi Hanya Rekaman
Suara Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan yang sudah dipublikasikan bukanlah suara asli pada saat Hari Proklamasi. Oscar Motuloh, foto jurnalis Antara, menyatakan bahwa suara tersebut merupakan hasil rekaman yang dibacakan pada saat peresmian RRI. Fatmawati mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan gaya Bung Karno pada saat membacakan teks pada Hari Proklamasi sebenarnya dengan rekaman. Pada 17 Agustus itu, Soekarno membacakannya dengan penuh gelora meski dalam kondisi sakit malaria sedangkan dalam rekaman suara Bung Karno terkesan dingin dan kurang bersemangat.

7. Proklamasi Hanya Sekali untuk Selamanya dan Pidato Bung Hatta
Tidak banyak yang tahu bahwa dalam susunan acara Proklamasi terdapat dua tokoh lain yang berpidato selain Bung Karno. Mereka adalah Bung Hatta dan Suwiryo (Wakil Wali Kota Jakarta). Bung Hatta menyampaikan pidato kepada barisan yang terlambat datang. Mereka datang terlambat karena mengira Proklamasi dibacakan di lapangan Ikada. Barisan meminta Bung Karno membacakan kembali proklamasi. Permintaan itu ditolak Bung Karno. "Tak ada Proklamasi dibacakan dua kali, Proklamasi hanya dibacakan sekali untuk selamanya,” ujar Bung Karno. Akhirnya, Bung Hatta memberikan pidato kepada barisan itu. Mengenai pidato Suwiryo, tidak diketahui secara pasti isinya.

8. Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah Jepang
Jepang menyerah pada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Logikanya, mana mungkin pihak yang kalah memberikan kemerdekaan? Kemerdekaan telah dipersiapkan dengan baik oleh Indonesia. Bonnie Triyana, Pimred Majalah Historia, menceritakan bahwa persiapan kemerdekaan telah dilakukan para tokoh muda sejak tanggal 15 Agustus 1945 dan tanggal 16 Agustus akan diadakan rapat oleh BPUPKI. Di tanggal 16 itulah, sekelompok pemuda ‘menculik’ Bung Karno dan Bung Hatta.

9. Foto berbicara
Dokumentasi momentum bersejarah proklamasi adalah foto-foto karya Mendur bersaudara (Frans dan Alex). Tidak ada dokumentasi video maupun rekaman suara sehingga gambaran suasana proklamasi hanya terekam dalam foto-foto. Dari foto bersejarah itu pulalah terungkap beberapa fakta:
Pembacaan proklamasi disaksikan hampir 300 orang (angle foto ke arah hadirin dan kisah Fatmawati),
Adanya tentara Jepang di belakang Soekarno (tidak diketahui secara pasti tujuannya),
Adanya tokoh-tokoh BPUPKI yang datang terlambat dalam pembacaan proklamasi (Dr. Radjiman, Sam Ratulangi dan Tengku Muhammad Hasan).

Sebagian dokumentasi Mendur bersaudara konon disita Jepang. Namun, sedikit yang ada rupanya cukup mampu menceritakan apa yang terjadi di tanggal bersejarah itu.

Nah, itulah sedikit cerita di balik proklamasi kemerdekaan. Fakta-fakta lainnya mungkin masih banyak yang tidak tersampaikan dalam tulisan ini. Apapun itu, sedikit fakta yang ada tetap mampu merasuk dan membarakan api cinta dan bangga pada perjuangan bangsa ini…

Salam Kompasiana



Sumber: 1, 2, 3, 4

Artikel pernah dimuat di Kompasiana

Mengenang, Teraniaya Dulu Baru Jadi Presiden



Walikota bodoh! Itulah pernyataan kontroversial Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah 2008-2013, yang dilontarkan kepada salah satu pemimpin daerah tahun 2012. Perseteruan dipicu oleh penolakan si pemimpin daerah itu terhadap perintah gubernur. Titah gubernur untuk menggusur bekas lahan pabrik es Saripetojo di kawasan Purwosari ditentang oleh pemimpin daerah tersebut.

Lalu, apa yang terjadi? Habiskah si pemimpin pemberani itu? Siapa sangka, beberapa tahun ke depan karir sang pemimpin daerah dimaksud kian terbang tinggi. Dari walikota Solo hijrah menjadi Gubernur DKI, dan melejit menjadi orang nomor 1 di bumi pertiwi ini. Dialah Jokowi, presiden RI ke 7.

Perseteruan dalam kancah politik seakan sudah menjadi keniscayaan. Untuk memegang tampuk kekuasaan, dunia politik sepertinya tidak hanya cukup menuntut dedikasi dan pengabdian luar biasa dari sang kandidat. Kontroversi politisi dapat pula menjadi salah satu alat untuk meroketkan namanya hingga kedudukan tertinggi. Namun, sebaliknya, sejarah juga membuktikan bahwa kontroversilah yang akhirnya menghujamkan tokoh politik ke lapisan terbawah hingga namanya dilupakan.

Ceplosan Bibit tak dipungkiri meroketkan nama Jokowi hingga menjadi tokoh politik yang sangat populer. Rakyat justru semakin simpatik dengan Jokowi sehingga tak dinyana gelombang dukunganpun semakin tinggi. Pencapaian itu tentu dengan tetap tidak melepaskan reputasi baik dan prestasi gemilangnya selama menjadi walikota.

Tindakan yang bersifat menekan dari lawan politik, hingga sengaja atau tidak sengja terlontar ucapan-ucapan yang kurang patut, tidak selalu berkonotasikan musibah reputasi bagi pihak yang ditekan. Bisa jadi itu adalah anugerah dalam bentuk yang tak kentara. Peristiwa serupa yang pernah terjadi yaitu menjelang Pemilu 2004.

Saat itu, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus lapang dada menerima kritikan pedas “seperti anak kecil” dari Alm. Taufik Kiemas. Permasalahan mencuat karena Taufik Kiemas tidak setuju dengan sikap SBY yang enggan melepaskan jabatan sebagai Menkopolhukam saat akan mencalonkan diri sebagai presiden.

Apa yang terjadi? Sepertihalnya Jokowi, peristiwa itu seperti menjadi batu loncatan awal bagi SBY untuk terbang ke puncak hingga meraih posisi pemimpin negeri. Simpati rakyat kepada tokoh yang dihujat kian memperkokoh posisi tokoh itu.

Mundur lagi ke belakang, peristiwa Kudatuli (Kudeta dua puluh tujuh juli), yang terjadi tahu 27 Juli 1996, mengingatkan kita bagaimana berdarahnya perseteruan politik. Saat itu, terjadi penyerbuan kantor DPP PDI, yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri, oleh pendukung Soerjadi (Ketua PDI versi Kongres Medan). Permasalahan tidak sesederhana karena pergolakan 2 kubu partai tetapi muncul dugaan keterlibatan pemerintah dan aparat dalam pemecah belahan partai dan penyerbuan itu.

Lalu, apa yang terjadi? lagi-lagi Megawati yang berada pada posisi tertekan kala itu justru mampu membalikkan keadaan. Peristiwa itu memanggil simpati rakyat dengan sendirinya hingga mampu mendukung Megawati membentuk partai raksasa PDIP yang kelak melancarkan langkahnya menjadi presiden RI.

Rangkaian cerita di atas hanya sepenggal perjalanan sejarah politik negeri ini. Masih banyak peristiwa serupa lainnya, baik di Indonesia maupun di Negara lain (seperti Nelson Mandela di Afrika Selatan atau Ayatulloh Khomaeni di Iran). Dari peristiwa-peristiwa itu kita dapat menarik pelajaran bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus menampilkan sikap populis, sikap teguh terhadap suatu kebenaran yang diyakininyalah yang akan memberikan daya tarik dengan sendirinya.

Tentu tidak semua pemimpin besar lahir karena penganiayaan yang pernah diterimanya. Hasil kerja yang mampu memberikan kebaikan besar bagi rakyatlah yang menjadi kunci utama untuk pemimpin dambaan kita. Ucapan janji surga tidak akan ada artinya tanpa dibuktikan dengan tindakan nyata.

Bagi para pemimpin kita, selamat berkarya untuk Indonesia…

…ask not what your country do for you, ask what you can do for your country (John F. Kennedy).


Artikel pernah dimuat di Kompasiana

Rio Haryanto dan Wah-nya Jet Darat



Rio Haryanto kemungkinan tidak lagi mengikuti sisa laga Formula 1 (F1) sebagai pembalap utama. Manor Racing pekan lalu menurunkan statusnya menjadi pembalap cadangan. Putusan yang diambil Manor tersebut sebenarnya tidak mengejutkan. Mengingat, sesuai kesepakatan, pihak Rio seharusnya menyetorkan dana sebesar 15 juta euro hingga pertengahan kompetisi. Akan tetapi, hingga batas waktu yang ditetapkan, manajemen Rio hanya sanggup memenuhi separo kewajiban itu yaitu sekita 8 juta euro yang berasal dari sponsor utama Pertamina dan dana pribadi. Artinya, masih terdapat 7 juta euro yang harus dilunasi. Angka yang fantastis!

Jadi, semahal itukah kompetisi jet darat ini? Dari sumber berita bola.com, perkiraan biaya sebuah mobil F1 adalah sekitar (Rp125M), dengan perincian: Sayap depan (Rp3,1M), undertray (Rp1,2M), 1 set ban (Rp27 juta), gearbox (Rp15M), perangkat telemetri (Rp1,55M), alat kemudi (Rp1M), monocoque (Rp20,9M), perangkat mesin (Rp73,3M), rem (Rp3,1M), sayap belakang (Rp1,9M), dan knalpot (Rp3,6M).

Di luar mobil, masih ada biaya lainnya. yaitu: untuk kompetisi semusim F1 sebuah tim memerlukan dana sebesar RpRp3,3T, dengan rincian: biaya produksi (Rp813M), pengoperasian (Rp751M), pengembangan dan penelitian (Rp856M), serta gaji driver dan kru (Rp877M). Sumber: bola.com.

Gelontoran dana hingga triliunan untuk suatu cabang olahraga mungkin masih menjadi sesuatu yang sangat ‘wah’ di negeri kita. Apalagi untuk ajang kompetisi yang tergolong mewah, yaitu F1, yang mana baru tahun ini baru satu anak negeri kita yang memperoleh kesempatan mencicipinya. Ya, Rio Haryanto, pemuda asal Solo itu memang layak untuk menjajal kemampuannya di kasta tertinggi balap mobil, setelah deretan prestasi balap tingkat internasional berhasil disabetnya. Tapi, Rio memang hanya sebatas ‘mencicipi’ balap bergengsi itu. Dia hanya diperbolehkan mengikuti separuh musim karena terkendala masalah dana. Sekali lagi karena dana, bukan karena performa.

Tidak seperti kebanyakan olahraga populer lainnya, seorang atlet cukup bermodal ketrampilan dan keberuntungan bertemu pencari bakat. Dalam F1, pembalap pemula bukanlah pembalap modal dengkul. Mereka harus memiliki modal finansial yang kuat. Apa yang dilakukan Rio Haryanto dengan menyetorkan dana besar ke Manor Racing (pay driver) agar dapat berlaga di F1 bukan sesuatu yang aneh dan langka. Hal itu juga dialami oleh pembalap-pembalap lainnya pada awal karir mereka, sebut saja sang maestro Michael Schumacher, Niki Lauda, atau Fernando Alonso.

Sadari Kemampuan Negeri

Untuk memperoleh pendanaan, Rio dan manajemennya sebenarnya telah melakukan upaya keras. Mulai dari merogoh kantong sendiri, dana sponsor utama, proposal kepada perusahaan-perusahaan, hingga pendekatan tingkat nasional yaitu kepada Kemenpora hingga viral dukungan dana dari msyarakat.

Tapi, apa mau dikata, dana yang dibutuhkan tidak juga terpenuhi. Gatot Dewo Broto, mewakili Kemenpora, menyatakan bahwa Rio baru merapat ke Menpora pada bulan November 2015 padahal pengumuman menjadi pembalap bulan Januari 2016. Hal itu, menurut Gatot, terlalu mepet bagi pihak kementerian untuk mempersiapkan dukungan. Namun, dukungan terhadap Rio sebenarnya telah masuk dalam Program Prioritas Keolahragaan Tahun 2016.

Anggaran yang dibutuhkan Rio memang sangat fantastis untuk sebuah olahraga. Kemenpora sendiri tahun 2016 memilikialokasi anggaran sebesar Rp3,3T. Tapi, sebagai orang awam, saya berpendapat angka ratusan milyar bisa jadi telah dialokasikan untuk pengembangan berbagai cabang olah raga yang telah jauh hari direncanakan dengan baik. Kemenpora tentu tidak dapat gegabah dalam mengambil keputusan pengucuran dana ratusan milyar. Kita belum tahu pula apa sebenarnya bentuk komitmen dukungan tahun 2016 kepada Rio dalam ajang F1.

Terlepas dari itu semua, memang benar bahwa Balap F1, siapapun telah mengakui, ialah derajat tertinggi untuk cabang olah raga otomotif roda 4. Merupakan suatu kebanggaan bagi seorang atlet dan negaranya untuk bisa berlaga di sana. Banyak sekali dukungan moril di media social kepada Rio Haryanto dengan mengedepankan api semangat kebangsaan. Namun, ada baiknya kita mempertimbangkan bahwa, selain kebanggaan, pemerintah kita tentu memiliki sudut pandang dan pertimbangan lain yang lebih luas. Kita pasti sudah tahu bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah di bidang olahraga yang lebih utama, misalnya pembangunan fasilitas olahraga yang memadahi di berbagai pelosok negeri dan pengembangan bakat atlet-atlet di daerah.

Anggapan sementara pihak bahwa Kemenpora lambat dalam menyikapi permohonan manajemen Rio menurut saya kurang tepat. Sekali lagi, dana yang diperlukan Rio sangat besar (untuk ukuran Indonesia). Sikap ketergesa-gesaan tanpa pertimbangan yang matang akan sangat beresiko. Sikap pemerintah merupakan bentuk kehati-hatian bukan kelambatan karena memang kondisi bangsa kita saat ini belum siap mengambil keputusan cepat untuk uang bermilyar lipat.

Saya merupakan penggemar olahraga, termasuk olahraga balap. Namun, saya juga menyadari bahwa olahraga, lagi-lagi termasuk balap, tidak selalu mampu membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Hanya segmentasi masyarakat tertentu saja yang menikmatinya, dan mungkin memperoleh keuntungan darinya. Betul, jika ada perwakilan negeri kita berlaga di F1 maka nama ‘Indonesia’ akan disaksikan oleh jutaan penghuni planet bumi. Adapun keuntungan lainnya mungkin hanya dari segi bisnis nama sponsor akan dilihat jutaan mata penggila balap F1. Bangga dan gengsi atas prestasi sah-sah saja tapi itu bukan segala-galanya.

Lalu, bagaiamana nasib Rio?

Kita tetap harus bangga, mendukung, dan menghargai semangat Rio Haryanto di F1. Kita juga perlu menyadari bahwa secara finansial negeri kita memang masih berat untuk menyokong langkah Rio. Tapi bukan berarti langkah Rio berhenti, mungkin masih ada celah pengelolaan manajemen anggaran Negara apabila memungkinkan.

Rio Haryanto masih memiliki peluang di F1. Meski bukan lagi pembalap utama, sebagai pembalap cadangan yang banyak berperan dalam uji coba mobil F1, Rio masih cukup beruntung dapat berinteraksi dan menimba langsung pengalaman gegap gempita F1. Kesempatan berlaga kembali sebagai pembalap utama pun belum tertutu[ sepenuhnya.

Dalam perjalanan bisnis F1, banyak pembalap yang tidak memperoleh bantuan dana dari negaranya. Kelihaian manajemen pembalap untuk mendapatkan sponsor merupakan tantangan terendiri. Selain, yang sudah pasti, kemampuan unjuk kemampuan dari pembalap. Ingat, kemampuan Rio telah menjadi sebagian modal yang mengangkatnya layak berlaga di F1.

Untuk Mas Rio, kalau memang Indonesia belum mampu membantu secara finansial, dukungan moral seluruh elemen bangsa semoga dapat menguatkan mental mas Rio untuk mengibarkan merah putih di ajang balap dunia…

Kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan meski upaya telah dimaksimalkan karena hanya Tuhan yang menentukan…

Artikel pernah dimuat di Kompasiana

Demi Lingkungan, Plastik Berbayar bukan Peluang Bisnis



Sudah hampir sebulan uji coba penggunaan plastik berbayar pada berbagai retailer diterapkan. Sejauh ini, tampaknya program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu berjalan efektif. Para kasir di toko ritel secara otomatis menawarkan penggunaan plastik berbayar kepada konsumennya. Konsumen sendiri juga relatif dapat menerima pemberkuan aturan itu, beli tanpa plastik atau bayar 200 perak. Evaluasi resmi pemerintah terhadap program ini akan dilakukan 3 bulan terhitung sejak uji coba dicanangkan.

Dalam tahap awal ini, pemerintah telah menunjukkan kesungguhannya akan perwujudan pengurangan sampah di Indonesia. Sebelumnya, payung hukum pengelolaan sampah telah diterbitkan, seperti UU No. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, PP No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, dan terakhir, yang menjadi dasar pelaksanaan plastik berbayar ini, yaitu SE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Dalam jangka waktu panjang, jika kebijakan tas plastik berbayar diterapkan secara konsisten, pengurangan sampah di negeri ini pasti akan tercapai. Indonesia Solid Waste Association mencatat bahwa produksi sampah plastik di Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil sampah domestic yaitu 5,4 juta ton/ tahun. Jumlah tersebut merupakan 14% dari total produksi sampah di Indonesia. Luar biasa kan.

Bukan Peluang Bisnis

Saya, sebagai warga negara tentu sangat mendukung program pemerintah ini. Namun, saya sebagai konsumen juga berharap bahwa kebijakan ini tidak memberatkan konsumen di satu sisi dan menguntungkan penyedia barang di sisi lain.

Sebelum aturan plastik berbayar diterapkan, kalkulasi pelaku bisnis retail tentu sudah memperhitungan biaya pembelanjaan plastik. Dengan diterapkannya konsumen untuk membayar plastik, sudah pasti pebisnis retail memperoleh keringanan beban pembelanjaan plastik itu. Atau bahkan, jika modal pembelanjaan plastik itu kurang dari Rp200,00 mereka malah dapat keuntungan tambahan. Untuk yang terkhir, saya tidak mengharapkan seperti itu. Penerapan aturan plastik berbayar harus dikembalikan kepada tujuan mulianya, yaitu mendidik masyarakat untuk peduli lingkungan.

Jika nanti dalam 3 bulan ke depan data statistic menunjukkan efektivitas program plastik berbayar ini dalam mengurangi sampah plastik maka kita patut memberikan applause kepada konsumen Indonesia yang telah sadar dan peduli terhadap penyelamatan lingkungan dari sampah plastik. Tak lupa, kita juga perlu memberikan respek para petugas kasir retail yang secara tegas telah membantu penegakkan ketentuan penggunaan plastik ini.

Pelaku Bisnis Peduli Lingkungan

Saat ini, di jendela kaca atau dinding swalayan dan ritel, dengan mudah kita dapat melihat tempelan ajakan kepada konsumen untuk peduli penggunaan plastik. Konsumen sejauh ini telah menaatinya, selanjutnya giliran pelaku bisnis juga mendukung program itu. Jadi, apakah cukup peritel membebankan biaya tambahan Rp200,00/ plastik maka mereka telah dinyatakan turut mensukseskan program ini? Menurut saya belum cukup.

Bagi para konsumen menengah ke atas mungkin membayar plastik seharga Rp200,00 bukan sesuatu yang memberatkan.Atau yang lebih mengkhawatirkan, seluruh konsumen semakin lama tidak lagi keberatan membayar Rp200,00. Di sinilah, para retailer harus mulai mampu menunjukkan perannya.

Pertama, perolehan pembayaran plastik sebaiknya tidak diperhitungkan sebagai bagian dari keuntungan yang sesungguhnya. Artinya, pemasukan dari sumber tersebut harus dialokasikan untuk kepentingan di luar bisnisnya. Misalnya, mengalokasikan hasil penjualan plastik untuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di sektor daur ulang sampah plastik. Penyaluran bantuan kepada bank-bank sampah (pihak yang bergerak dalam aktivitas daur ulang sampah) non komersil juga dapat dipertimbangkan.

Kedua, menproduksi tas plastik ramah linglungan (biodegradable plastic bag). Sementara pihak menyatakan produksi plastik jenis tersebut membutuhkan biaya yang lebih tinggi dari plastik regular. Kalau memang pendapat tersebut benar, setidaknya retailer rela menambah sedikit beban pengeluarannya untuk kepentingan yang lebih besar, menjaga lingkungan. Alternatif lain yaitu dengan mengganti plastik dengan paper bag yang berasal dari bahan daur ulang juga perlu dipikirkan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengurangan limbah sampah ini bukan tergantung pada upaya salah satu pihak saja, pemerintah, konsumen, atau peritel. Kerja bareng seluruh pihak itu sudah menjadi kemutlakan. Negeri yang bebas sampah adalah tanggung jawab kita semua. Tentu kita tidak ingin mewariskan kelimpahan sampah kepada generasi mendatang.

Artikel pernah dimuat di Kompasiana