Adakah kaitan jargon itu dengan Work From Home (WFH) yang sedang
kita jalani saat pendemi Covid-19 ini? Jawabannya, ada banget.
Bangun pagi semestinya sudah menjadi rutinitas kita, tidak istimewa lagi. Tapi, apa yang ada dalam benak kita sesaat setelah sadar dari istirahat malam itu? muncul deretan pertanyaan: “bagaimana berangkat ke kantor? macet kah? lewat jalur mana? Rush hour is waiting for me”. Kekhawatiran yang akhirnya merusak mood dan kekhusyukan kita di awal hari. Alhasil, memulai pagi dengan suasana hati yang tidak baik dapat merusak seluruh hari itu.
Bangun pagi semestinya sudah menjadi rutinitas kita, tidak istimewa lagi. Tapi, apa yang ada dalam benak kita sesaat setelah sadar dari istirahat malam itu? muncul deretan pertanyaan: “bagaimana berangkat ke kantor? macet kah? lewat jalur mana? Rush hour is waiting for me”. Kekhawatiran yang akhirnya merusak mood dan kekhusyukan kita di awal hari. Alhasil, memulai pagi dengan suasana hati yang tidak baik dapat merusak seluruh hari itu.
Semua keresahan hilang semenjak kebijakan bekerja dari rumah
diberlakukan. Terlepas dari himpitan waktu di jalan menuju tempat kerja, kita
pun dapat menyambut pagi dengan suasana berbeda. Karena hati tenang maka ibadah
pagi pun menjadi lebih khusyuk, sarapan terasa nikmat, dan tidak kalah
pentingnya rencana hidup dalam sehari itu dapat lebih tertata! Nah, di sinilah kita bisa memiliki victory hours, kesempatan dimana kita
bisa menguasai waktu bukan dikuasai waktu.
Kembali pada pokok bahasan WFH, saya menilai ada beragam hal
menarik dan tentunya bermanfaat dari cara kerja di rumah ini.
Pertama, adanya waktu cukup untuk berkontemplasi. Pagi hari,
adalah saat yang paling tepat untuk melakukan evaluasi diri. Suasana yang hening
membuat kita dapat berpikir lebih jernih sehingga mampu membersihkan hati dan
memperbaiki mindset terhadap
kehidupan. Hal itu dapat dilakukan setelah ibadah pagi (ingat, kita tidak sedang diburu waktu berangkat kerja). Setelah
kontemplasi, pikiran dan hati akan lebih tenang sehingga membawa kesiapan
menghadapi tantangan pekerjaan.
Kedua, memiliki kesempatan untuk lebih memperdulikan
kesehatan tubuh. Selesai berkontemplasi, kita dapat melakukan aktivitas
olahraga ringan di rumah. Tentu, sebelumnya bukan hal mudah menyempatkan diri
olahraga di pagi hari karena keharusan meninggalkan rumah sebelum matahari
terbit. Adanya kesempatan WFH semestinya tidak kita abaikan aktivitas sederhana
yang mempunyai dampak besar itu. Kesehatan adalah modal utama kita untuk bekerja
dengan optimal. Intermeso, nggak lucu
juga jika sekarang kita korbankan fisik untuk materi, sekian tahun mendatang
kita korbankan materi untuk fisik (berobat).
Terakhir, jika jiwa sudah disegarkan lewat kontemplasi dan
raga telah dibugarkan dengan olahraga maka kerja pun sudah bisa dimulai. Karena
di rumah, kita bisa menyamankan diri untuk memilih cara dan tempat kerja. Kita
tidak lagi duduk kaku di bangku kerja namun bisa mengambil posisi santai di
sofa sambil memangku laptop. Kita tidak lagi terkurung di kubikal tetapi bisa memilih
kamar atau ruang lain yang nyaman. Dengan demikian, kita bisa memperoleh
suasana baru, fleksibel, dan serasa bekerja di co-working space yang dipercaya dapat mendorong produktivitas dan
kreativitas.
WFH dan Produktivitas
Dengan berbagai kenyamanannya, apakah WFH ini membuat
pegawai terlena atau justru sebaliknya? Saya berpandangan WFH tidak menganggu
produktivitas bahkan dapat meningkatkannya jika kita pintar memanfaatkannya.
Coba Anda renungkan, ketika di kantor, apakah ada jaminan kita bisa bekerja penuh
sepanjang hari? Rasanya sulit. Seringkali gangguan/ distraction muncul tiba-tiba, misalnya rekan kerja mengajak ngobrol
atau diskusi sesuatu yang tidak terkait pekerjaan dan parahnya, tidak
berkesudahan. Atau, adanya undangan rapat yang tidak substansial sehingga
menyita waktu kerja berjam-jam.
Selama WFH, semua aktivitas kontraproduktif dapat dihindari.
Obrolan atau rapat berlebihan bisa dikurangi karena keterbatasan interaksi face to face dan jika dilakukan secara
digital akan menimbulkan kompensasi biaya tinggi. Untuk itu, kita bisa langsung
melakukan pekerjaan pokok dengan lebih fokus. Dengan bekerja secara fokus, kita
bisa mendisiplinkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai workplan. Hasilnya, efisiensi dan efektivitas
bekerja tercapai yang pada akhirnya kualitas pekerjaan pun lebih terjamin.
Sebagai tambahan, WFH menjadikan kita makin berpikir kreatif
untuk tetap produktif di tengah keterbatasan. Kita menjadi makin adapif dengan
pemanfaatan beraneka teknologi yang menjembatani alur pekerjaan. Misalnya, online meeting dan digitalisasi dokumen yang
merupakan sesuatu baru, kini makin menyatu dengan kita. Dapat dikatakan, saat
ini menjadi momentum terbaik bagi pegawai Bank Indonesia untuk membiasakan diri
dengan ragam digital workplace. Ke
depan, bukan mustahil cara kerja semacam itu menjadi new normal bagi kita. Sekali lagi, produktivitas kerja tetap
terjaga dengan terobosan tersebut.
Sisi lain WFH
Melihat alur kehidupan yang lebih teratur dan produktivitas
yang terjaga selama bekerja di rumah, kita jadi memiliki kesempatan
mengintegrasikan aspek profesional dan personal. Sebagaimana pernah disampaikan
Jeff Bezos, CEO Amazon, jika kita bahagia pada saat bekerja maka akan berimbas
pada kebahagiaan di keluarga, dan sebaliknya. Itulah yang disebut harmonisasi
pekerjaan dan kehidupan yang dapat mengantarkan kesuksesan pada kedua hal
tersebut.
Selama berkarir, mungkin banyak diantara kita tidak memiliki
banyak waktu untuk keluarga. Dengan WFH ini, kita bisa mengharmonisasikan
pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pemberlakuan larangan aktivitas di luar
menjadikan pasangan dan anak juga tinggal di rumah sehingga intensitas
interaksi keluarga meningkat.
Contoh pengalaman pribadi, meskipun berbeda kota dengan
anak, saya memiliki waktu lebih banyak untuk berkomunikasi dengan mereka
(secara digital) semenjak WFH. Saya juga menjadi guru dadakan mereka selama learn from home dengan menyusun kuis
yang dikirimkan dan diselesaikan pula secara digital (melalui Google Form Quiz).
Istimewanya, semua itu saya lakukan sembari menyelesaikan tugas pekerjaan.
Jadi, sukses mendidik anak dan beres dalam pekerjaan.
Di samping pekerjaan dan kehidupan pribadi, kita juga dapat
memproduktifkan peran dalam kehidupan sosial. Tidak adanya aktivitas ke kantor,
secara finansial menghemat pengeluaran biaya transportasi kita. Selain itu,
sebagai pegawai kita juga masih memperoleh penghasilan rutin. Kelebihan rezeki
yang kita miliki tersebut dapat disisihkan untuk membantu pihak yang menjadi
korban pendemi Covid-19. Jadi, meskipun tinggal di rumah, peran kita untuk
turut menyelesaikan persoalan sosial masih ada.
Hikmah WFH
Hikmah WFH
Dengan adanya WFH ini, kita dapat memetik hikmah dari
berbagai sisi kehidupan. Diawali dengan datangnya kesempatan untuk mengatur
kehidupan pagi yang menaikan kualitas spiritual (ibadah dan kontemplasi) dan memperbaiki
kondisi fisik (mempunyai waktu berolahraga). Kesemuanya itu memperkuat kesiapan
diri melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Selanjutnya, kesiapan yang matang
menjadikan kita bekerja lebih efektif, efisien, dan kreatif.
Di luar pekerjaan, hal lain yang tidak terduga, kita dapat
memperkuat rekatan hubungan dengan keluarga. Terutama, menumbuhkan peran orang
tua yang tidak sekedar menafkahi anak tetapi juga memposisikan diri sebagai
guru pendidik bagi mereka. Terakhir, kesempatan kita untuk menempatkan diri
guna berperan menyelesaikan permasahan sosial terbentang luas.
Mengenai kapan persoalan ini akan selesai, tidak ada seorang
pun bisa menjawabnya. Satu hal yang perlu kita pegang adalah tetap mensyukuri
peluang-peluang yang masih ada untuk melakukan banyak hal baik selama WFH ini.
Itulah kekuatan besar kita untuk tetap bertahan, sejalan pesan Eckhart Tolle
penulis The Power of Now, acknowledging
the good that you already have in your life is the foundation for all abundance.
#worldbookday #shareamillionstories #digitallearning