Seorang karyawan, sebut saja X, menghela nafas saat membaca
undangan rapat yang diterima melalui surelnya (e-mail). “Wah lagi-lagi rapat”
desahnya. Keengganan tersebut tidak hanya terjadi pada X tetapi juga sebagian
besar rekan se-tim nya. Keluhan mereka hampir sama, yaitu rapat tersebut
biasanya akan memakan waktu kerja setidaknya 3 jam. Akibatnya, kerja lembur
sering dilakukan sebagai konsekuensi dari waktu yang tersita itu. Tambahan
lagi, kegiatan itu sudah menjadi jadwal rutin di kantor mereka, minimal
seminggu sekali dilakukan meeting marathon semacam itu. Hal lain yang membuat
mereka gerah adalah proses rapat yang sering kali tidak to the point, obrolan ngalor
ngidul di luar isu utama rapat, dan hasil rapat yang tidak jelas.
Keyword dari kasus di atas adalah lembur. Memang, lembur
bukan sesuatu yang buruk. Dalam kondisi tertentu, misal beban pekerjaan yang
sangat tinggi, target yang harus dicapai dengan batasan waktu, atau deadline
yang tidak bisa dikompromikan lagi, mengharuskan karyawan kerja over time. Itu
semua tidak menjadi masalah kalau seluruh proses kerja dari awal telah
dilakukan secara efektif dan efisien sesuai standar prosedur kerja. Jika
akhirnya masih memerlukan ekstra waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, itu
konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan, sudah seharusnya dilakukan.
Tetapi, dalam lingkungan kerja tertentu yang memiliki beban
tugas yang semestinya bisa diselesaikan dalam takaran waktu kerja normal, para
karyawannya masih juga melakukan lembur. Nah, dalam kondisi seperti itulah kita
perlu melakukan evaluasi atas waktu kerja lebih tersebut. Mungkin saja
pemanfaatan waktu kerja tidak efektif. Seperti dalam kasus di awal tulisan ini,
seringkali kita tidak menyadari bahwa waktu kerja teralokasikan untuk sesuatu
yang tidak produktif, misalnya rapat yang terlalu sering, lama, dan tanpa
kejelasan tujuan dan hasil akhirnya. Untuk tipe karyawan pekerja dan sangat
memperhatikan penggunaan waktu, rapat semacam itu tentu sangat mengganggu.
Tetapi, patut diakui, ada pula tipe karyawan yang mudah terlena dalam keasyikan
diskusi panjang tak berujung. Untuk kategori karyawan seperti itu, rapat
panjang malah menjadi sarana paling bagus untuk ‘melarikan diri’ dari
pekerjaannya (moga-moga Kompasianer ga ada yang seperti ini).
Selain rapat tak produktif, aktivitas sepele seperti ngobrol
tak bermanfaat cukup menyita waktu produktif juga. Benar, bahwa dalam bekerja
kita membutuhkan komunikasi yang baik dengan rekan-rekan kita. Namun, jika
obrolan yang dimaksudkan sekedar iseng ini dilakukan secara berlebihan yang
terjadi justru tercipta kebiasaan membuang waktu dan menyepelekan pentingnya
target waktu penyelesaian pekerjaan. Hal itu potensi terjadi pada lingkungan
kerja yang memiliki pola pengawasan atasan yang lemah dan tidak adanya
ketegasan sanksi atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan sesuatu target waktu
yang ditentukan. Sebenarnya masih banyak perilaku tidak produktif lain yang
menyebabkan seseorang akhirnya bekerja lembur, kompasianer pasti sering menemuinya
dalam pengalaman kerja sehari-hari.
Insentif uang lembur yang pada awalnya ditujukan sebagai
penghargaan atas kerja lebih yang dilakukan berpotensi disalahgunakan oleh
oknum karyawan. Oknum tersebut sengja mengulur-ulur waktu kerja dengan berbagai
dalih untuk sekedar mengejar tambahan upah lembur itu. Sekali lagi, pengawasan
dari perusahaan mutlak diperlukan untuk mengetahui haktivitas lembur yang
dilakukan karyawannya.
O iya maaf, dari tadi terkesan karyawan terus yang salah ya.
Dari sisi perusahaan perlu ada perhatian juga mengenai keseimbangan antara
beban pekerjaan dengan ketersediaan sumber daya manusianya. Jangan sampai,
hanya karena alasan penekanan beban upah dengan tetap memasang target kerja
tinggi, perusahaan enggan melakukan penambahan karyawan dan justru melakukan
eksploitasi berlebihan terhadap karyawan yang terbatas. Ingat, karyawan adalah
manusia biasa, bukan robot. Mereka mempunyai batas kemampuan kerja dan emosi
yang perlu dijaga.
Lembur dan Produktivitas
Apakah lembur ini selalu identik dengan produktif? Belum tentu.
Apabila lembur tersebut sebagai konsekuensi dari kegiatan-kegiatan tak
bermanfaat seperti saya contohkan sebelumnya maka produktivitas kerja perlu
dipertanyakan kembali. Produktivitas menurut saya tidak cukup diukur dari hasil
pekerjaan yang telah dicapai, tetapi juga seberapa besar pengorbanan yang
diberikan dibandingkan dengan hasil kerja yang dihasilkan. Banyak pengorbanan
yang diberikan karena lembur ini. Pengorbanan waktu, karyawan menghabiskan
waktu terlalu banyak di kantor sehingga kehilangan waktu berharga dengan
keluarga, komunikasi dengan pasangan dan anak-anak menjadi sangat minim, dan
tidak kurangnya kesempatan bersosialisasi di luar lingkungan pekerjaan.
Pengorbanan biaya, ketika lembur maka perusahaan akan terbebani dengan biaya
operasional yang cukup besar, misalnya listrik karena AC dan lampu serta beban
upah lembur yang tinggi. Hal itu tidak dapat dianggap sepele karena kita haru
berhitung pula apakah hasil dari lembur karyawan sebanding dengan biaya operasional
yang harus dibebankan? Berikutnya, pengorbanan kesehatan. Lembur yang dilakukan
secara berlebihan dapat mempengaruhi pola hidup sehat kita, sepert istirahat
menjadi berkurang, olahraga terabaikan, dan stress yang tak terkendalikan. Jika
pada akhirnya karyawan sakit dan tidak dapat bekerja dalam waktu tertentu,
tidak hanya karyawan dan keluarganya yang akan merugi, perusahaanpun harus
mengalokasikan biaya kesehatan yang lebih tinggi pula. Pengorbanan energi,
bekerja hingga larut malam cukup menguras energi karyawan. Dalam kondisi
tersebut, sulit bagi banyak karyawan untuk mencapai kinerja terbaiknya.
Akibatnya, hasil pekerjaan menjadi tidak optimal, kualitas berkurang, banyak
kesalahan-kesalahan yang ujung-ujungnya atasan harus menghabiskan waktu untuk
mengoreksinya.
Selain berbagai pengorbanan itu, lembur yang berlebihan
dapat memicu kejenuhan karyawan terhadap pekerjaannya. Karena jenuh, karyawan
lama-kelamaan menjadi bosan, demotivasi, hingga kehilangan passion dalam
bekerja. Akhirnya, karyawan tidak lagi menikmati pekerjaannya sehingga selain
stress produktivitas juga akan menurun.
Menyimpulkan pemaparan saya, lembur bukan sesuatu yang
buruk, untuk memperoleh pencapaian kerja di atas rata-rata memang seringkali
lembur diperlukan. Tetapi ada baiknya, sebelum lembur, karyawan perlu
mempertimbangkan hal-hal lain di luar pekerjaannya. Perlu diingat, pekerjaan
memang bagian penting dalam hidup kita, tetapi kita juga mempunyai sisi
kehidupan lain seperti kehidupan pribadi, keluarga, sosial kemasyarakatan, dll
yang tidak bijak apabila diabaikan. Waktu hidup kita sangat terbatas. Waktu
merupakan sumber daya paling berharga yang tak terbarukan. Sedetik terlewat
tidak mungkin kembali lagi. Bijaksana dalam memanfaatkan waktu tidak dapat
ditawar lagi. Work life balance akan
tercapai saat kita mampu menghargai waktu.