Beberapa
waktu yang lalu, P. Hasudungan Sirait melalui artikelnya di Kompas yang
berjudul Jurnalisme Investigasi, Obat Awet Muda Media Lama menyoroti realitas
dunia jurnalistik saat ini yang tengah bergelut mempertahankan eksistensinya di
era digital. Wartawan senior ini bahkan memandang pers telah melangkah ke masa
senja ketika tidak mampu beradaptasi dengan banjirnya arus informasi melalui perangkat
teknologi.
Mau tidak
mau, suka tidak suka, teknologi informasi telah merangkul beragam aspek hidup
kita, Diawali dengan lahirnya internet yang menghancurkan batas dunia.
Mendekatkan aksesibilitas segala informasi yang tercecer di seluruh belahan Negara.
Internet bahkan telah menciptakan dunia baru, dunia maya, dunia yang tak
tersentuh tetapi terus tumbuh dalam kehiduan sehari-hari manusia.
Dari internet,
lahir media sosial (Medsos). Sebuah media yang menciptakan jejaring manusia
dalam kapasitas yang sangat besar (big
data). Saat ini, tidak cukup sandang, pangan, dan papan, Medsos sepertinya
telah melekat pula menjadi kebutuhan pokok manusia. Tiada hari tanpa
bersentuhan dengan Medsos.
Ditambah
lagi, keberadaan perangkat gawai, sebuah perangkat cerdas yang semakin
merekatkan manusia dengan Medsos. Di manapun kapan pun setiap orang dengan
mudah berinteraksi dengan akun Medsos yang dimilikinya.
Internet,
Medsos, maupun gawai telah membentuk artificial
intelegence. Sebuah intelegensi buatan yang mampu mengikuti kemauan dan
memenuhi berbagai kebutuhan penggunanya. Informasi merupakan sajian utama yang
mampu disodorkan perangkat cerdas buatan itu secara instan. Masyarakat mulai
enggan membuka puluhan lembar Koran guna memperoleh informasi yang diperlukan.
Informasi melalui dunia maya muncul dalam hitungan menit. Mesin pencari di
internet dapat mengundang informasi yang diperlukan dengan sangat mudah dan
praktis. Kemampuan memutakhirkan berita dalam waktu yang super cepat, dengan
sajian tulisan singkat, dan bahkan gratis semakin mengalihkan minat masyarakat terhadap
informasi dalam rupa digital ini.
Belum lagi
mulai maraknya fenomena citizen
journalist, yang keberadaannya masih sering tidak diakui sebagai bagian
jurnalis sebenarnya, yang belakangan ini mampu menyodorkan informasi secara cuma-cuma
tetapi memiliki memiliki nilai yang berharga bagi para netizen. Contoh, swafoto (selfie)
seseorang di suatu tempat wisata yang selanjutnya diunduh pada akun Medsosnya,
dalam waktu singkat mampu menjadi informasi viral yang tersebar ke seluruh
dunia. Jutaan orang akan segera mengenali tempat wisata itu dan suatu saat
mengajak mereka untuk mengunjunginya. Kita mungkin tidak perlu lagi membaca
liputan tempat wisata di Koran atau majalah. Sudah cukuplah sumber informasi
dari Medsos itu.
Pers Berselancar di Arus Digital
Kalangan pers
yang masih berkutat dalam cara pemberitaan konvensional perlu menyikapi secara
bijak fenomena informasi digital ini. Masyarakat masih membutuhkan kehadiran
para jurnalis dalam arti yang sesungguhnya. Hasil karya jurnalis tetap dinanti
oleh masyarakat dalam memenuhi dahaga informasi. Tetap, sekali lagi, jurnalis
harus mampu membaca trend budaya terbaru masyarakat dalam mencari informasi.
Sebagaimana uraian P. Hasudungan Sirait, nilai lebih para wartawan yaitu
kemampuan menyajikan data dan analisis yang mendalam menjadi senjata ampuh
untuk tetap bertahan di tengah terjangan arus informasi digital. Wartawan dalam
kondisi ini bukan bersikap menantang arus tersebut, yang niscaya sulit
dibendung. Wartawan dapat memanfaatkan kelebihannya yang selanjutnya memadukan
dirinya dengan arus teknologi informasi. Sebagaimana pemain selancar yang
menikmati ganasnya ombak ketika mengikuti pergerakan arusnya.
Kemampuan
penggalian informasi secara investigatif tidak hanya dituangkan dalam lembaran
berita di kertas tetapi juga disajikan melalui berbagai perangkat media
informasi. Kita akui bahwa saat ini arus informasi melalui media digital
sebagian besar masih mengandalkan aktualisasi. Unsur faktualisasi sering
dikorbankan. Berita singkat terkesan sekedar mengedepankan wow factor sehingga mengabaikan keakuratan dan kedalaman materi.
Jurnalis professional yang membawa informasi berkualitas perlu melimpahkan
karyanya dalam berbagai sarana digital. Jurnalis tersebutlah yang akan mampu
mencegah kesesatan berita instan. Melalui merekalah, ke depan, informasi
melalui Medsos dan sarana digital lainnya yang tersaji mempunyai kualitas pemberitaan
yang terjamin, memenuhi esensi pemberitaan yang bermanfaat serta tentu
mencerdaskan para pembacanya.
Kita tidak
dapat menolak sepenuhnya prediksi banyak pihak bahwa sekian tahun ke depan bias
jadi tidak ada lagi kertas Koran yang menyuguhkan berita. Semua berita telah melebur dalam e-paper atau tersebar melalui
kendaraan internet. Dominasi Generasi Y dan Z yang akrab dengan dunia digital sekian
tahun mendatang semakin memperkuat posisi informasi digital untuk menancapkan eksistensinya
di masa depan.
Akhirnya,
dapat saya sampaikan bahwa saya bukanlah seorang jurnalis, tetapi saya sangat
mencintai dunia jurnalisme. Saya pun tidak rela komunikasi melalui para
jurnalis punah di tengah zaman digital ini. Untuk itu, saya selalu berharap
para penggiat dunia jurnalis tidak melanjutkan masa senjanya tergeser arus
teknologi. Saya menanti rekan-rekan jurnalis kian perkasa dan leluasa menghadirkan
karyanya untuk masyarakat yang tak terpisahkan lagi dari teknologi digital.
Sebagai
refleksi Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari lalu, tantangan jurnalisme bukan
lagi belenggu kebebasan berpendapat, tidak lagi ancaman rezim pemerintah,
tetapi era datangnya varian karya pemberitaan dalam wujud yang baru. Wujud
digital.
Artikel pernah dimuat di Kompasiana Refleksi Hari Pers Nasional: Jurnalisme Mengarungi Arus Digital
Tidak ada komentar:
Posting Komentar