Dalam sekian tahun eksistensinya, Kompasiana mungkin telah
menerima ratusan ribu atau mungkin jutaan tulisan bebas. Di sinilah para
blogger ataupun citizen journalists bebas menyalurkan pemikiran, ide,
uneg-uneg, curhat, curcol, atau apapun namanya dalam suatu karya tulis.
Kompasiana, menurut penilaian saya, sangat apresiatif dengan para penyumbang
tulisan ini. Tidak hanya sekedar menyediakan wadah dan pengantar tulisan,
Kompasiana juga terus mengembangkan inovasinya untuk merangsang orang agar
konsisten dalam menulis. Dari sudut pandang saya, berbagai fitur seperti
seperti Headline, Artikel Pilihan, Terpopuler, Tren di Google, dll, merupakan
bentuk penghargaan terhadap hasil tulisan. Lebih dari itu, fitur tersebut juga
menjadi pemicu adrenalin para Kompasianer agar tak pernah lelah dan bosan melahirkan
tulisan-tulisan briliannya.
Terlepas dari itu semua, para blogger pasti telah memahami
bahwa tulisan yang di publish tidak ada yang dapat menjamin kelak menjadi trending
topic (populer, headline, dll). Mungkin, hanya para admin situs dan sudah pasti
pembacalah yang menjadi juri atas kualitas tulisan kita. Sudah kondisi yang jamak
bagi blogger saat telah bersusah payah mencurahkan pikiran untuk menghasilkan
sebuah tulisan namun tanggapan para blogger lain tidak sesuai harapan. Tulisan
yang terpampang di laman situs blog hanya dibaca segelintir orang (atau mungkin
malah pembacanya si penulis sendiri, he he he, maaf bercanda).
Sah-sah saja dan wajar seorang blogger berupaya menghasilkan
tulisan dengan motivasi tulisannya dapat mencetak “box office”, memperoleh
apresiasi besar dari para pembacanya. Menulis isu yang sedang aktual,
mencantumkan judul unik, atau sekedar menceritakan pengalaman sehari-hari, merupakan
upaya agar tulisan banyak dibaca. Namun, sekali lagi, tanggapan para pembaca
adalah di luar kontrol kita.
Ketika tulisan di blog memperoleh apresiasi bagus, motivasi
kita untuk menulis akan semakin tinggi dan tentu tidak sulit bagi kita untuk
terus menghasilkan tulisan berikutnya. Namun, jika kondisi sebaliknya yang
terjadi, bagaimana? Nyerah? Boikot blogger? Pensiun dini dari blogger? Ya
silakan saja, tapi saya tidak pernah menganjurkannya.
Tulisan atau blog “tidak laku” boleh jadi dianggap sebagai
kegagalan. Tapi kegagalan itu bukanlah akhir dunia blog kita. Untuk mengusir
keputusasaan, ada beberapa cara yang menurut saya cukup membantu. Pertama,
menulislah dengan ikhlas. Kita menulis karena memang ingin menulis. Kita ingin
membagikan apa yang ada dalam benak kita. Kita berharap apa yang kita tulis
dapat bermanfaat bagi orang lain. Upayakan untuk menekan dorongan menulis
karena ingin masuk headline atau menjadi artikel pilihan admin. Saya menyadari,
teori ikhlas ini mudah ditulis dan diucapkan, tapi dalam penerapannya bisa jadi
luar biasa sulit. Tapi saya optimis, dengan berlatih menulis ikhlas lama
kelamaan yang sulit itu akan dapat kita lakukan.
Kedua, menulis dengan cinta. Tolong jangan dimaknai kata “cinta”
di sini secara tekstual sebagai tulisan romansa atau kisah asmara picisan,
alay, lebay. Cinta di sini yaitu menulis karena kita memang suka menulis. Kita
mencintai olah kata dalam tuangan tulisan. Ketika aktivitas menulis dinaungi
kecintaa dan kepuasan akan tercapai ketika tulisan telah dihasilkan, maka kita
akan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa kecewa saat tulisan tidak
diminati para pembaca.
Ketiga, teruslah menulis. “I can accept failure but I can’t
accept not trying” kata Michael Jordan, legenda NBA. Berlatih dan terus berlatih
untuk mencapai kesempurnaan, practice makes perfect and, more importantly
practice perfectly. Semua adagium itu berlaku juga bagi para blogger. Semakin
sering menulis maka kemampuan menulis akan kian terasah. Kualitas tulisan akan
semakin baik dari waktu ke waktu. Harapannya, ya suatu ketika tulisan laris
manis dibaca orang lain.
Nah, itulah cara kita untuk memotivasi diri agar tetap eksis
menulis. Mungkin para blogger atau Kompasianer mempunyai strategi lain yang
lebih jitu. Apapun itu, hal terpenting adalah para blogger mampu menjaga mood
dan tetap produktif berkarya. Sekali-kali kita perlu mengingat kembali bahwa senjata
terampuh para bapak bangsa dalam perjuangan dulu adalah karya tulisan (belum ada
blog). menggambarkan betapa dahsyatnya sebuah tulisan.
Satu lagi, pesan seorang blogger kawakan, kalau ingin
menulis mudah sekaligus bagus, ya banyaklah membaca.
Sekian, semoga bermanfaat…
Tulisan pernah dimuat di Kompasiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar