Selasa, 26 Juni 2018

Mimpi Tani Kita



Matahari belum menggeliat saat Karyo menapaki galangan yang membelah bidang sawah. Usianya masih timur, mungkin masuk kelompok generasi millennial, istilah sosial terkini. Dengan semangat membuncah, ayunan pacul membalikkan tanah lendut yang siap menerima sebaran benih padi. Itulah keseharian Karyo di hamparan ujung Kalimantan Selatan, Tanah Bumbu.
Meski sekedar ilustrasi, apa yang dilakukan si petani muda itu masih nyata adanya di berbagai pelosok negeri agraris ini. Petani masih memiliki generasi mudanya yang mau bergerak menjadikan padi sebagai sumber kehidupannya.
Permulaan tulisan itu sebenarnya mengkilaskan kekhawatiran saya akan kondisi pertanian kita saat ini. Tahulah kita bahwa produksi beras kerapkali tidak mampu mengimbangi permintaan yang tinggi, akhirnya, terpiculah inflasi. Cukup banyak dan kompleks bila memikirkan penyebabnya. Namun, saya menitikberatkan pada satu masalah, kondisi sumber daya petani.
Tergelitik artikel peneliti proyek Pencerah Nusantara, Deviana Wijaya Dewi, yang mengungkapkan bahwa jumlah petani di bawah usia 35 tahun telah mengalami penurunan dari 25,3 persen tahun 2004 hanya tersisa 8,14 persen di tahun 2014 (penulis mengolah data BPS). Itu terjadi di tengah potensi jumlah penduduk muda berlimpah pada sekian tahun mendatang atau disebut bonus demografi.
Pertanian memang tampak seperti mata pencaharian yang sudah tua dan lelah, tidak menarik, ndeso, dan mungkin dirasa tidak lagi menguntungkan dari itung-itungan generasi muda. Ditambah lagi, tak banyak petani yang mendorong keturunanya meneruskan profesi bapaknya. Pernah suatu ketika, saya menerima cerita kebanggan seorang petani di Pulau Buru, Maluku, yang mampu menyekolahkan anaknya hingga menjadi calon dokter. Hal itu menggambarkan makin berhasilnya para petani, kian tinggilah mereka memberikan pendidikan kepada anaknya, pendidikan yang menjauhkan penerusnya dari dunia olah padi. Sesaat, terkesimalah kita akan kesuksesan itu. Tapi, sejurus kemudian, muncul pertanyaan besar, siapa kelak menjadi petani di masa depan? Hilangkah regenerasinya?   
Tani dan Teknologi
Pergantian generasi memang masalah yang belum terselesaikan. Dan, tentu itu bukan satu-satunya problematika serius yang masih menunggangi pertanian nusantara, masih ada sederetan lagi yang lain. Meski demikian, pertanian kita tidak akan berakhir, saya percaya itu. Every cloud has a silver lining, masih ada harapan untuk mencerahkan kembali pertanian kita yang sedang mendung ini.
Harapan itu mulai tampak ketika derasnya inovasi teknologi menawarkan beragam kemudahan sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan. Beberapa tahun belakangan, kita dihadapkan pada revolusi teknologi yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Bagaimana internet merapatkan jarak antar tempat sehingga informasi sangat mudah didapatkan dari manapun dan kapanpun. Bagaimana seorang bisa berakrab ria melalui media sosial. Bagaimana sebuah telepon genggam menjadi perangkat cerdas dalam berekonomi daring. Itulah kekuatan teknologi yang menciptakan kehidupan baru yang serba mudah dan nyaman. Lalu, bagaimana pertanian terbantu olehnya?
Keinginan menciptakan banyak petani muda berpeluh keringat di ladang mungkin amat sulit diwaktu mendatang. Untuk itu, teknologi menghadirkan sumber daya yang mampu menggantikan aktivitas yang sebelumnya dilakukan oleh banyak manusia. Mekanisasi olah lahan ataupun teknik tanam benih hingga panen adalah contoh pemanfaatan teknologi yang sudah dirintis. Saat ini bahkan sudah ada pemanfaatan drone untuk aktivitas pertanian. Tidak ketinggalan, penggunaan teknologi informasi mulai mewarnai kegiatan itu.
Teknologi akan terus menjamah dunia pertanian ketika ada perantara manusia inovatif yang membawanya. Generasi mudalah yang paling memungkinkan melakukan itu. Mereka yang sebagian besar adalah para technology savvy memiliki kemampuan berinovasi melakukan hal-hal luar biasa. Dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang ada, mereka tidak segan melakukan disrupsi pola-pola lama dalam beraktivitas, termasuk dalam mengolah pertanian.
Bank Indonesia, Pemerintah, dan Petani Millenial
Belakangan ini, pemerintah memperkenalkan sistem e-commerce pertanian. Konsep tersebut merupakan sistem berbasis mobile yang mengintegrasikan sistem penjualan dan sistem pembelian. Tujuannya, menciptakan rantai distribusi yang efektif sehingga menghasilkan harga yang kompetitif dengan tetap menjaga kesejahteraan petani dan memberikan kepuasan kepada konsumen.
Dalam e-commerce pertanian, konektivitas dari petani, distributor, hingga konsumen akhir dilakukan melalui aplikasi. Petani menawarkan produknya melalui portal khusus yang selanjutnya diakses konsumen untuk pemesanannya. Sudah pasti, pemanfaatan sistem tersebut membutuhkan mereka yang melek teknologi. Kembali, generasi mudalah yang paling diharapkan menerapkan sistem itu.
Selain pemerintah, Bank Indonesia sebagai institusi yang turut bertugas menjaga inflasi, berkontribusi pula dalam mendukung keberhasilan proses bisnis daring pertanian. Bank sentral tersebut menyediakan sistem informasi harga yang disebut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Menjawab perilaku terkini, informasi tersebut dengan mudah dapat diakses melalui gawai.
PIHPS merupakan bagian dari rantai nilai e-commerce yang membantu petani maupun konsumen untuk memantau pergerakan harga komoditas. Diharapkan, dengan adanya pemantauan tersebut, kewajaran harga akan tetap terjaga. Kewajaran itu akan membawa kestabilan harga dengan tidak mengorbankan pendapatan dari petani. Sekali lagi, generasi muda lah yang semestinya paling tahu memanfaatkan teknologi ini.
Di samping penyediaan informasi, Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran terus mendorong pemanfaatan non tunai untuk berbagai transaksi. Tidak terkecuali, jual beli produk pertanian juga dijembatani pembayaran secara non tunai. Konsumen dapat memanfaatkan mobile banking guna penyelesaian transaksinya. Alhasil, proses bisnis menjadi lebih cepat dan efisien bahkan mampu menjangkau berbagai wilayah. Sistem ini dapat dikatakan hal baru di Indonesia sehingga memerlukan proses adaptasi pagi penggunanya. Generasi millennial mempunyai karakter yang adaptif terhadap perubahan itu. Mereka sebagai generasi instan juga akan sangat terbuka dengan metode pembayaran yang lebih cepat tersebut.     
Telah tergambar bagaimana potensi pertanian sebenarnya dekat dengan usia muda yang merupakan gadget freak. Proses pertanian dari hulu hingga hilir dilakukan melalui bantuan teknologi yang memerlukan campur tangan anak muda. Secara tidak langsung, mereka yang mau berkecimpung di dunia itu dapat dikelompokkan sebagai petani, lebih tepatnya petani modern.
Para petani muda modern dapat memulai penerapan e-commerce pertanian dengan membentuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berbasis rintisan atau start up yang bergerak di bidang pertanian. Usaha semacam itu memang sedang marak dikembangkan oleh kalangan muda. Di sinilah, Bank Indonesia turut memberikan perannya melalui pendekatan pembinaan UMKM.
Pemberdayaan UMKM Transformatif, Tak Malu Jadi Petani!
Peran pengembangan UMKM oleh Bank Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Berbagai metode pendekatan dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan kondisi terkini. Bukan mustahil, pendekatan pemberdayaan UMKM akan ditekankan pada penguatan potensi pelaku UMKM yang bergerak di bidang pertanian modern ini.
Pengembangan UMKM oleh Bank Indonesia kepada petani modern memberikan angin segar kepada mereka. Perangkat kebijakan maupun kekuatan otoritas sebagai bank sentral sangat membantu petani muda dalam mengembangkan usahanya. Sebagai otoritas mitra kerja pemerintah, Bank Indonesia dapat bahu membahu dengan pemerintah mendorong petani muda untuk konsisten mengembangkan usahanya. Kebijakan yang dikeluarkan lembaga Negara tersebut tidak boleh membelenggu pengembangan usaha mereka, namun tetap memberikan koridor agar usaha tetap berjalan dengan sehat dan lancar.   
Terobosan program inovatif perlu diaplikasikan untuk menyokong petani muda ini. Inkubator bisnis berbasis pemanfaatan teknologi, misalnya, perlu terus dihidupkan untuk menciptakan petani baru yang canggih dan memperkuat mereka yang sudah menjalankannya.
Akhirnya, kekhawatiran hilangnya generasi petani mulai terkikis. Peran mereka dalam pertanian bermunculan dalam bentuk dan cara yang lain. Tangan-tangan muda itu mampu memanfaatkan teknologi dalam berinovasi menciptakan pertanian berkualitas, tidak hanya buah padi yang bernas,  tetapi juga pertanian yang menolong hajat hidup orang banyak sekaligus menjanjikan kesejahteraan bagi petaninya, sebagamana mimpi petani negeri ini.  
Mimpi saya, suatu saat nanti Pulau Buru seorang petani Pulau Buru kembali berkata , “Pak, sawah ini digarap anak saya pake drone, dia baru lulus S2 di negeri londo sana.”                 
Harusnya, tidak ada lagi rasa malu dan ragu menekuni diri sebagai petani…

                
   
  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar