Matahari belum menggeliat saat Karyo
menapaki galangan yang membelah bidang sawah. Usianya masih timur, mungkin
masuk kelompok generasi millennial, istilah sosial terkini. Dengan semangat membuncah,
ayunan pacul membalikkan tanah lendut
yang siap menerima sebaran benih padi. Itulah keseharian Karyo di hamparan
ujung Kalimantan Selatan, Tanah Bumbu.
Meski sekedar ilustrasi, apa yang dilakukan
si petani muda itu masih nyata adanya di berbagai pelosok negeri agraris ini.
Petani masih memiliki generasi mudanya yang mau bergerak menjadikan padi
sebagai sumber kehidupannya.
Permulaan tulisan itu sebenarnya mengkilaskan
kekhawatiran saya akan kondisi pertanian kita saat ini. Tahulah kita bahwa
produksi beras kerapkali tidak mampu mengimbangi permintaan yang tinggi,
akhirnya, terpiculah inflasi. Cukup banyak dan kompleks bila memikirkan
penyebabnya. Namun, saya menitikberatkan pada satu masalah, kondisi sumber daya
petani.
Tergelitik artikel peneliti proyek Pencerah
Nusantara, Deviana Wijaya Dewi, yang mengungkapkan bahwa jumlah petani di bawah
usia 35 tahun telah mengalami penurunan dari 25,3 persen tahun 2004 hanya
tersisa 8,14 persen di tahun 2014 (penulis mengolah data BPS). Itu terjadi di
tengah potensi jumlah penduduk muda berlimpah pada sekian tahun mendatang atau
disebut bonus demografi.
Pertanian memang tampak seperti mata
pencaharian yang sudah tua dan lelah, tidak menarik, ndeso, dan mungkin dirasa tidak lagi menguntungkan dari
itung-itungan generasi muda. Ditambah lagi, tak banyak petani yang mendorong
keturunanya meneruskan profesi bapaknya. Pernah suatu ketika, saya menerima
cerita kebanggan seorang petani di Pulau Buru, Maluku, yang mampu menyekolahkan
anaknya hingga menjadi calon dokter. Hal itu menggambarkan makin berhasilnya
para petani, kian tinggilah mereka memberikan pendidikan kepada anaknya,
pendidikan yang menjauhkan penerusnya dari dunia olah padi. Sesaat, terkesimalah
kita akan kesuksesan itu. Tapi, sejurus kemudian, muncul pertanyaan besar,
siapa kelak menjadi petani di masa depan? Hilangkah regenerasinya?
Tani dan Teknologi
Pergantian generasi memang masalah yang
belum terselesaikan. Dan, tentu itu bukan satu-satunya problematika serius yang
masih menunggangi pertanian nusantara, masih ada sederetan lagi yang lain. Meski
demikian, pertanian kita tidak akan berakhir, saya percaya itu. Every cloud has a silver lining, masih
ada harapan untuk mencerahkan kembali pertanian kita yang sedang mendung ini.
Harapan itu mulai tampak ketika derasnya
inovasi teknologi menawarkan beragam kemudahan sekaligus menyelesaikan berbagai
persoalan. Beberapa tahun belakangan, kita dihadapkan pada revolusi teknologi
yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Bagaimana internet merapatkan jarak
antar tempat sehingga informasi sangat mudah didapatkan dari manapun dan
kapanpun. Bagaimana seorang bisa berakrab ria melalui media sosial. Bagaimana
sebuah telepon genggam menjadi perangkat cerdas dalam berekonomi daring. Itulah
kekuatan teknologi yang menciptakan kehidupan baru yang serba mudah dan nyaman.
Lalu, bagaimana pertanian terbantu olehnya?
Keinginan menciptakan banyak petani muda
berpeluh keringat di ladang mungkin amat sulit diwaktu mendatang. Untuk itu,
teknologi menghadirkan sumber daya yang mampu menggantikan aktivitas yang
sebelumnya dilakukan oleh banyak manusia. Mekanisasi olah lahan ataupun teknik
tanam benih hingga panen adalah contoh pemanfaatan teknologi yang sudah
dirintis. Saat ini bahkan sudah ada pemanfaatan drone untuk aktivitas
pertanian. Tidak ketinggalan, penggunaan teknologi informasi mulai mewarnai
kegiatan itu.
Teknologi akan terus menjamah dunia
pertanian ketika ada perantara manusia inovatif yang membawanya. Generasi
mudalah yang paling memungkinkan melakukan itu. Mereka yang sebagian besar
adalah para technology savvy memiliki
kemampuan berinovasi melakukan hal-hal luar biasa. Dengan memanfaatkan
perangkat teknologi yang ada, mereka tidak segan melakukan disrupsi pola-pola
lama dalam beraktivitas, termasuk dalam mengolah pertanian.
Bank Indonesia, Pemerintah, dan Petani
Millenial
Belakangan ini, pemerintah memperkenalkan sistem
e-commerce pertanian. Konsep tersebut merupakan sistem berbasis mobile yang
mengintegrasikan sistem penjualan dan sistem pembelian. Tujuannya, menciptakan
rantai distribusi yang efektif sehingga menghasilkan harga yang kompetitif
dengan tetap menjaga kesejahteraan petani dan memberikan kepuasan kepada
konsumen.
Dalam e-commerce pertanian, konektivitas
dari petani, distributor, hingga konsumen akhir dilakukan melalui aplikasi.
Petani menawarkan produknya melalui portal khusus yang selanjutnya diakses
konsumen untuk pemesanannya. Sudah pasti, pemanfaatan sistem tersebut
membutuhkan mereka yang melek teknologi. Kembali, generasi mudalah yang paling diharapkan
menerapkan sistem itu.
Selain pemerintah, Bank Indonesia sebagai
institusi yang turut bertugas menjaga inflasi, berkontribusi pula dalam
mendukung keberhasilan proses bisnis daring pertanian. Bank sentral tersebut
menyediakan sistem informasi harga yang disebut Pusat Informasi Harga Pangan
Strategis (PIHPS). Menjawab perilaku terkini, informasi tersebut dengan mudah
dapat diakses melalui gawai.
PIHPS merupakan bagian dari rantai nilai
e-commerce yang membantu petani maupun konsumen untuk memantau pergerakan harga
komoditas. Diharapkan, dengan adanya pemantauan tersebut, kewajaran harga akan
tetap terjaga. Kewajaran itu akan membawa kestabilan harga dengan tidak
mengorbankan pendapatan dari petani. Sekali lagi, generasi muda lah yang semestinya
paling tahu memanfaatkan teknologi ini.
Di samping penyediaan informasi, Bank
Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran terus mendorong pemanfaatan non
tunai untuk berbagai transaksi. Tidak terkecuali, jual beli produk pertanian juga
dijembatani pembayaran secara non tunai. Konsumen dapat memanfaatkan mobile banking guna penyelesaian
transaksinya. Alhasil, proses bisnis menjadi lebih cepat dan efisien bahkan
mampu menjangkau berbagai wilayah. Sistem ini dapat dikatakan hal baru di
Indonesia sehingga memerlukan proses adaptasi pagi penggunanya. Generasi
millennial mempunyai karakter yang adaptif terhadap perubahan itu. Mereka
sebagai generasi instan juga akan sangat terbuka dengan metode pembayaran yang
lebih cepat tersebut.
Telah tergambar bagaimana potensi pertanian
sebenarnya dekat dengan usia muda yang merupakan gadget freak. Proses pertanian dari hulu hingga hilir dilakukan
melalui bantuan teknologi yang memerlukan campur tangan anak muda. Secara tidak
langsung, mereka yang mau berkecimpung di dunia itu dapat dikelompokkan sebagai
petani, lebih tepatnya petani modern.
Para petani muda modern dapat memulai
penerapan e-commerce pertanian dengan membentuk Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah berbasis rintisan atau start up yang bergerak di bidang pertanian.
Usaha semacam itu memang sedang marak dikembangkan oleh kalangan muda. Di
sinilah, Bank Indonesia turut memberikan perannya melalui pendekatan pembinaan
UMKM.
Pemberdayaan UMKM Transformatif, Tak Malu
Jadi Petani!
Peran pengembangan UMKM oleh Bank Indonesia
sudah berlangsung sejak lama. Berbagai metode pendekatan dilakukan menyesuaikan
dengan kebutuhan kondisi terkini. Bukan mustahil, pendekatan pemberdayaan UMKM
akan ditekankan pada penguatan potensi pelaku UMKM yang bergerak di bidang
pertanian modern ini.
Pengembangan UMKM oleh Bank Indonesia kepada
petani modern memberikan angin segar kepada mereka. Perangkat kebijakan maupun
kekuatan otoritas sebagai bank sentral sangat membantu petani muda dalam mengembangkan
usahanya. Sebagai otoritas mitra kerja pemerintah, Bank Indonesia dapat bahu
membahu dengan pemerintah mendorong petani muda untuk konsisten mengembangkan
usahanya. Kebijakan yang dikeluarkan lembaga Negara tersebut tidak boleh
membelenggu pengembangan usaha mereka, namun tetap memberikan koridor agar
usaha tetap berjalan dengan sehat dan lancar.
Terobosan program inovatif perlu
diaplikasikan untuk menyokong petani muda ini. Inkubator bisnis berbasis
pemanfaatan teknologi, misalnya, perlu terus dihidupkan untuk menciptakan
petani baru yang canggih dan memperkuat mereka yang sudah menjalankannya.
Akhirnya, kekhawatiran hilangnya generasi
petani mulai terkikis. Peran mereka dalam pertanian bermunculan dalam bentuk
dan cara yang lain. Tangan-tangan muda itu mampu memanfaatkan teknologi dalam
berinovasi menciptakan pertanian berkualitas, tidak hanya buah padi yang
bernas, tetapi juga pertanian yang menolong
hajat hidup orang banyak sekaligus menjanjikan kesejahteraan bagi petaninya,
sebagamana mimpi petani negeri ini.
Mimpi saya, suatu saat nanti Pulau Buru
seorang petani Pulau Buru kembali berkata , “Pak, sawah ini digarap anak saya
pake drone, dia baru lulus S2 di negeri londo
sana.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar