Selasa, 26 Juni 2018

RESENSI BUKU: Self Driving, Menjadi Driver Atau Passenger


RESENSI BUKU
Judul              : Self Driving, Menjadi Driver Atau Passenger
Penulis          : Rhenald Kasali
Penerbit         : Mizan, Maret 2015 (ISBN: 978-979-433-851-3)
Halaman        : xiii + 265 halaman
Oleh               : Abdul Haris
NIP                 :14542
Satker             : Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan
No. Telp         : 081325570001
Kategori         : Self Transformation

Membaca karya Rhenald Kasali kali ini seakan kita diajak kembali untuk menjelajahi sekuel cerita perubahan dari sang penulis. Mengawali ulasan tentang perubahan dengan Change!, menyusul karya-karya penulis berikutnya, nuansa “change” tidak pernah lepas mewarnai setiap tulisan Rhenald. Tak terkecuali buku Self Driving dengan tagline “Menjadi Driver Atau Passenger” ini, “change” masih menunjukkan identitasnya dalam alur paparan 13 bab buku ini. Perbedaan mendasar dari buku-buku sebelumnya, melalui Self Driving, penulis melakukan eksplorasi secara total dinamika perubahan yang melekat pada individu sebagai komponen pembentuk organisasi. Persimpangan jalan hidup yang ditawarkan kepada tiap individu, menjadi seorang driver atau passenger, itu pilihan. Keduanya tercipta melalui keputusan sikap dan perilaku yang diambil manusia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.               
Pilihan Hidup
Karakter passenger ditampilkan sebagai perilaku yang cenderung pasif, sebatas menghafal dan mengetahui namun tanpa tahu cara memanfaatkannya. Sebaliknya, driver adalah mereka yang memiliki akumulasi hard dan soft skills, aktif, dan kreatif. Manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan arah hidupnya menjadi driver atau passenger. Secara eksplisit, penulis langsung mengarahkan pembaca bahwa pilihan menjadi driver lebih utama daripada sekedar passenger. Driver mencerminkan karakter positif yang mengantarkan pada keberhasilan transformasi.
Lalu, kapan mulai terbentuknya karakter driver atau passenger? Pendidikan keluarga adalah pijakan awalnya. Tata cara orang tua dalam memperlakukan anaknya merupakan fase inisiasi pembentukan karakter kehidupan manusia. Lepas dari keluarga berarti pula lepas dari ketergantungan, individu akan menghadapi tantangan dari dunia luar yang senantiasa berubah. Generation gap dan kultur yang cenderung menggiring orang menjadi passenger adalah masalah awal yang ditemui (Hal. 18). Di sini seorang yang berorientasi menjadi driver dituntut untuk berinisiatif dan selalu adaptif. Keberanian melepaskan diri dari comfort zone, sebuah zona yang membelenggu orang hingga terlena tidak berkembang dan tidak siap menghadapi kehidupan baru yang berbeda, harus tertanam dalam benak seorang driver.
Kemauan berpikir turut menyertai perjalanan menuju driver atau passenger. Berpikir dalam hal ini diartikan sebagai kemampuan berinisiatif, mencari jalan baru, dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam masyarakat. Cukup mencengangkan data yang disodorkan penulis, hanya 2% orang yang mencapai kesuksesan sempurna. Penulis menyimpulkan hanya kelompok minoritas inilah yang bersedia berpikir. Orang-orang itulah para drivers. Kenyataan tersebut menyadarkan kita bahwa budaya berpikir belum terbentuk pada mayoritas orang. Artinya, kecenderungan menjadi passenger masih dominan dalam kehidupan.
Dikarenakan menjadi driver adalah pilihan hidup, diri sendirilah yang memutuskan menuju jalan tersebut (drive yourself). Namun, kekuatan internal saja belum cukup, seorang driver perlu membantu orang lain untuk berhasil juga (drive your people). Mengembangkan organisasi dan tidak membiarkan organisasi menjadi kerdil adalah pekerjaan berikutnya (drive your organization). Akhirnya, mewujudkan sebuah driving society ialah tugas terbesar seorang driver (drive your nation) – Hal. 43-46.
Salahkah Pendidikan Kita?
Menjadi bagian dari pendidik menjadi bekal penulis untuk mengkritisi kondisi fundamental dunia yang digelutinya itu. Dalam pencarian akar pembentukan karakter driver atau passenger, penulis berhasil mengungkap bahwa pendidikan merupakan salah satu sumber penciptaan karakter. Sulitnya para sarjana memperoleh pekerjaan memunculkan pertanyaan korektif mengenai sistem pendidikan nasional. Dunia kerja membutuhkan seorang problem solver (pemikir) lebih dari sekedar seorang yang berpengetahuan. Kampus, yang tentu didahului dengan jenjang pendidikan dasar hingga lanjutan, masih sebatas melepaskan sarjana yang berpengetahuan. Semestinya, sarjana pemikirlah yang dilahirkan dari kampus. Pemikir adalah mereka yang memiliki ketrampilan memindahkan pikiran ke dalam tindakan nyata. Tindakan hanya bisa didapat melalui latihan dan disimpan dalam muscle memory (myelin). Pengetahuan disimpan dalam brain memory. Brain memory berkembang apabila manusia melatih myelin-nya. (Hal. 49). Seorang pemikirlah yang kelak menjadi driver setelah memasuki dunia kerja.
Kurangnya para pemikir disebabkan sistem pendidikan kognitif yang mengedepankan kemampuan menghafal. Sistem itu memang mampu menghasilkan siswa yang pintar di kelas namun belum tentu berhasil di masyarakat. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik karena tidak membentuk pemahaman mendalam. Sistem menghafal mengakibatkan peserta didik memasuki dunia kerja dengan beban pengetahuan yang overcognitive. Untuk itu, kultur pendidikan nasional harus dievaluasi. Guru dan murid perlu menata ulang pikiran mereka. Penataan dimulai dari framework from passengers to be drivers (Hal 61 dan 62).       
Menuju Good Drivers
Good driver adalah seorang inisiator yang mampu menjadi role model bagi banyak orang. Untuk menjadi good driver, tidak cukup hanya menguasai hard competencies tetapi juga serangkaian kemampuan untuk mematangkan kepribadian (Hal. 94). Sebagaimana telah disinggung di awal bab, kepribadian good driver adalah kepribadian yang siap untuk meninggalkan zona nyaman dan berpikir dalam kotak baru untuk melihat cara-cara baru. Karakter assertiveness akan memperkuat good driver ketika memperkenalkan sekaligus mengajak pada suatu pembaharuan. Assertiveness ialah seni berperilaku dan bersikap tegas dengan tetap menjaga suasana persahabatan (win-win). Mengenai kepribadian driver, penulis memberikan detail penjelasannya mulai dari pembentukan perilaku hingga manajemen dan cara berpikir pada tengah hingga akhir bab buku ini.  
Mengutip contoh kehidupan para samurai Jepang, disiplin dan kehormatan diri adalah modal awal menjadi driver. Disiplin adalah sebuah komitmen, meski sesuatu berubah, kalau kita berkomitmen maka kita selalu siap menghadapi dan memenuhinya (Hal. 112-114).  Etos kerja disiplin melekat pada kepribadian seorang driver, baik disiplin itu berasal dari forced discipline (disiplin karena paksaan dari luar) maupun self-discipline (kemampuan yang memungkinkan orang untuk bertindak tanpa terganggu oleh keadaan emosi) - Hal. 119. Perilaku disiplin akan sempurna ketika dibarengi dengan keberanian mengambil resiko. Seorang pengambil resiko bersedia membayar biaya (pengorbanan) dan menerima konsekuensi tindakannya. Ia merupakan tipe orang yang tidak mencari aman dan menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dilakukan dapat mencapai keberhasilan atau justru sebaliknya. Selanjutnya, seorang driver perlu memiliki mental juara. Dia akan selalu berusaha menjadi winner (play to win). Winner tercermin dari  kemampuan mengambil tindakan penyelesaian masalah, proaktif, dan bisa menampakkan kemajuan serta keberhasilan. Winner masuk dalam kategori orang yang telah memberdayakan kemampuan berpikirnya guna menganalisis persoalan.
The power of simplicity, kesederhanaan memberikan kemudahan. Melengkapi perilaku driver lainnya, seorang driver adalah manusia yang mampu berpikir simple, tidak ribet, dan memangkas kompleksitas birokrasi. Penulis menekankan bahwa membuat sesuatu menjadi simple bukanlah hal yang mudah, perlu kerja keras dan pemikiran mendalam. Apabila pemikiran dan tindakan sederhana tersebut dapat terbentuk, seorang driver akan lebih mudah, cepat, dan efisien untuk mengambil suatu tindakan yang tepat. Sesuatu yang sederhana memperjelas dan mendekatkan pada keberhasilan tujuan.
Mendekati bab akhir, penulis mengangkat kembali isu pentingnya kemampuan berpikir namun dengan uraian yang lebih komprehensif. Creative thinking, critical thinking, dan growth mindset merupakan 3 cara berpikir yang diperlukan driver. Creative thinking yang berpusat di otak kanan dan critical thinking yang berpusat di otak kiri akan berperan optimal apabila difungsikan secara seimbang. Keseimbangan itu akan menghasilkan driver yang berpendidikan tinggi namun tetap berpikir kritis dan berpendirian kuat.
Kreativitas sendiri tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan. Pengetahuan menghasilkan referensi (apa yang pernah dilakukan) sedangkan kreativitas mendorong orang untuk menjelajahi terra incognita, sebuah ‘kawasan’ baru yang belum terpetakan (Hal. 196). Adapun kehadiran critical thinking menunjukkan kemampuan driver dalam melakukan proses reflektif, mengkaji setiap informasi yang diterima dengan bukti-bukti yang kuat (Hal. 220). Terakhir, growth mindset merupakan cara berpikir yang berfungsi untuk mengatasi fixed mindset. Pada saat kondisi yang dihadapi selalu bebas dari kesulitan dan keberhasilan mudah diraih, saat itulah terbentuk fixed mindset (Hal. 232). Cara berpikir yang fixed menyebabkan seseorang tidak siap menghadapi tantangan yang berisiko terjadi kesalahan dan kegagalan. Transformasi fixed mindset menjadi growth mindset dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan otak berupa mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Orang yang memiliki growth mindset melakukan pekerjaan dengan kesadaran diri dan sepenuh hati sehingga tidak mudah frustrasi. 
Seluruh perilaku dan cara berpikir ala driver bukan merupakan bakat alam atau bawaan lahir. Setiap orang dapat menumbuhkannya melalui latihan secara sempurna. Latihan dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan waktu terbaik untuk memulainya adalah saat ini juga. Konsistensi serta tak kenal menyerah akan menjadi penyempurna latihan menuju good driver.  
Menuntaskan uraiannya, penulis mengingatkan lagi bahwa executive functioning berupa pembentukan mental semasa muda merupakan momentum pembangunan fondasi sebagai good driver. Executive functioning diaktifkan melalui 3 elemen psikologis yaitu inhibitory control (tahu dan tidak melakukan apa yang tidak boleh diucapkan/dilakukan) dan self-regulation (meregulasi diri), working memory (kemampuan menata informasi dengan tanggap dalam memori), dan cognitive flexibility (kemampuan beradaptasi) – Hal. 249-250. Menuju good driver dapat diwujudkan jika kita melangkah mengikuti petunjuk arahnya (memenuhi persyaratan perilaku driver). Perubahan tentu dapat terjadi apabila kita bersedia untuk bergerak.       
Seakan kita disadarkan siapa diri kita saat ini, sudahkah mencapai kedudukan sebagai driver? Ataukah sebenarnya masih menikmati posisi passenger? Itulah yang dapat diperoleh dengan membaca buku Self Driving. Penulis mampu menyajikan sebuah peta menuju driver atau passenger, meskipun, secara tegas menuntun pada jalan menjadi good driver. Untuk meyakinkan pembaca, penulis mengangkat seluruh aspek positif good driver dan langsung menegasikan pilihan lainnya yaitu bad driver, good passenger, dan bad passenger. Kritik utama peresensi terhadap buku ini yaitu terlewatkannya penjelasan yang aplikatif bagaimana seorang good driver merubah individu sekelilingnya yang berkarakter passenger untuk menjadi driver. Penulis terkesan mengutarakan memulai menuju good driver tanpa kejelasan kondisi awalnya sebagai bad driver atau masih pada taraf passenger. Dibandingkan serial perubahan sebelumnya, penjelasan berbagai tindakan nyata dalam mengubah sebuah distress company menjadi perusahaan yang solid dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca. Kritik minor lainnya hanya pada alur pemaparan yang kurang terstruktur. Dalam beberapa sub judul, penulis terkesan tidak menuntaskan penjelasannya dan melompat ke ide lainnya di luar sub judul. Bisa jadi, penulis hendak mengalirkan seluruh idenya secara lugas sehingga sedikit mengabaikan pengelompokkan dan penempatan ide sesuai batasan judul bab.
Secara keseluruhan, peresensi menilai buku Self Driving layak untuk dibaca seluruh kalangan, mengingat perubahan merupakan keniscayaan setiap orang dalam rangka memperbaiki diri. Rekomendasi kuat untuk membaca buku ini kepada individu yang berkarir pada suatu institusi yang mapan (established organization). Mengingat, pada institusi-institusi itulah kesadaran seseorang untuk mengarahkan hidupnya menjadi driver justru seringkali menurun karena kenyamanan yang telah direngkuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar