RESENSI
BUKU
Judul : Self Driving,
Menjadi Driver Atau Passenger
Penulis : Rhenald Kasali
Penerbit : Mizan, Maret 2015 (ISBN: 978-979-433-851-3)
Halaman : xiii + 265 halaman
Oleh : Abdul Haris
NIP :14542
Satker : Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Kalimantan Selatan
No. Telp : 081325570001
Kategori :
Self Transformation
Membaca karya Rhenald Kasali kali ini seakan kita
diajak kembali untuk menjelajahi sekuel cerita perubahan dari sang penulis. Mengawali
ulasan tentang perubahan dengan Change!,
menyusul karya-karya penulis berikutnya, nuansa “change” tidak pernah lepas mewarnai setiap tulisan Rhenald. Tak
terkecuali buku Self Driving dengan tagline “Menjadi Driver Atau Passenger”
ini, “change” masih menunjukkan
identitasnya dalam alur paparan 13 bab buku ini. Perbedaan mendasar dari
buku-buku sebelumnya, melalui Self
Driving, penulis melakukan eksplorasi secara total dinamika perubahan yang
melekat pada individu sebagai komponen pembentuk organisasi. Persimpangan jalan
hidup yang ditawarkan kepada tiap individu, menjadi seorang driver atau passenger, itu pilihan. Keduanya tercipta melalui keputusan sikap
dan perilaku yang diambil manusia dalam menjalani kehidupan
sehari-harinya.
Pilihan
Hidup
Karakter passenger
ditampilkan sebagai perilaku yang cenderung pasif, sebatas menghafal dan mengetahui
namun tanpa tahu cara memanfaatkannya. Sebaliknya, driver adalah mereka yang memiliki akumulasi hard dan soft skills, aktif,
dan kreatif. Manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan arah hidupnya
menjadi driver atau passenger. Secara eksplisit, penulis
langsung mengarahkan pembaca bahwa pilihan menjadi driver lebih utama daripada sekedar passenger. Driver
mencerminkan karakter positif yang mengantarkan pada keberhasilan transformasi.
Lalu, kapan mulai terbentuknya karakter driver atau passenger? Pendidikan keluarga adalah pijakan awalnya. Tata cara
orang tua dalam memperlakukan anaknya merupakan fase inisiasi pembentukan
karakter kehidupan manusia. Lepas dari keluarga berarti pula lepas dari
ketergantungan, individu akan menghadapi tantangan dari dunia luar yang
senantiasa berubah. Generation gap
dan kultur yang cenderung menggiring orang menjadi passenger adalah masalah awal yang ditemui (Hal. 18). Di sini
seorang yang berorientasi menjadi driver
dituntut untuk berinisiatif dan selalu adaptif. Keberanian melepaskan diri dari
comfort zone, sebuah zona yang membelenggu
orang hingga terlena tidak berkembang dan tidak siap menghadapi kehidupan baru
yang berbeda, harus tertanam dalam benak seorang driver.
Kemauan berpikir turut menyertai perjalanan menuju driver atau passenger. Berpikir dalam hal ini diartikan sebagai kemampuan
berinisiatif, mencari jalan baru, dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam
masyarakat. Cukup mencengangkan data yang disodorkan penulis, hanya 2% orang
yang mencapai kesuksesan sempurna. Penulis menyimpulkan hanya kelompok
minoritas inilah yang bersedia berpikir. Orang-orang itulah para drivers. Kenyataan tersebut menyadarkan
kita bahwa budaya berpikir belum terbentuk pada mayoritas orang. Artinya,
kecenderungan menjadi passenger masih
dominan dalam kehidupan.
Dikarenakan menjadi driver adalah pilihan hidup, diri sendirilah yang memutuskan menuju
jalan tersebut (drive yourself).
Namun, kekuatan internal saja belum cukup, seorang driver perlu membantu orang lain untuk berhasil juga (drive your people). Mengembangkan
organisasi dan tidak membiarkan organisasi menjadi kerdil adalah pekerjaan
berikutnya (drive your organization).
Akhirnya, mewujudkan sebuah driving
society ialah tugas terbesar seorang driver
(drive your nation) – Hal. 43-46.
Salahkah
Pendidikan Kita?
Menjadi bagian dari pendidik menjadi bekal penulis
untuk mengkritisi kondisi fundamental dunia yang digelutinya itu. Dalam
pencarian akar pembentukan karakter driver
atau passenger, penulis berhasil
mengungkap bahwa pendidikan merupakan salah satu sumber penciptaan karakter. Sulitnya
para sarjana memperoleh pekerjaan memunculkan pertanyaan korektif mengenai
sistem pendidikan nasional. Dunia kerja membutuhkan seorang problem solver (pemikir) lebih dari
sekedar seorang yang berpengetahuan. Kampus, yang tentu didahului dengan jenjang
pendidikan dasar hingga lanjutan, masih sebatas melepaskan sarjana yang berpengetahuan.
Semestinya, sarjana pemikirlah yang dilahirkan dari kampus. Pemikir adalah
mereka yang memiliki ketrampilan memindahkan pikiran ke dalam tindakan nyata.
Tindakan hanya bisa didapat melalui latihan dan disimpan dalam muscle memory (myelin). Pengetahuan disimpan dalam brain memory. Brain memory
berkembang apabila manusia melatih myelin-nya.
(Hal. 49). Seorang pemikirlah yang kelak menjadi driver setelah memasuki dunia kerja.
Kurangnya para pemikir disebabkan sistem pendidikan
kognitif yang mengedepankan kemampuan menghafal. Sistem itu memang mampu
menghasilkan siswa yang pintar di kelas namun belum tentu berhasil di
masyarakat. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik karena tidak membentuk
pemahaman mendalam. Sistem menghafal mengakibatkan peserta didik memasuki dunia
kerja dengan beban pengetahuan yang overcognitive.
Untuk itu, kultur pendidikan nasional harus dievaluasi. Guru dan murid perlu
menata ulang pikiran mereka. Penataan dimulai dari framework from passengers to be drivers (Hal 61 dan 62).
Menuju Good Drivers
Good
driver adalah seorang
inisiator yang mampu menjadi role model
bagi banyak orang. Untuk menjadi good driver,
tidak cukup hanya menguasai hard
competencies tetapi juga serangkaian kemampuan untuk mematangkan
kepribadian (Hal. 94). Sebagaimana telah disinggung di awal bab, kepribadian good driver
adalah kepribadian yang siap untuk meninggalkan zona nyaman dan berpikir dalam
kotak baru untuk melihat cara-cara baru. Karakter assertiveness akan memperkuat good
driver ketika memperkenalkan
sekaligus mengajak pada suatu pembaharuan. Assertiveness
ialah seni berperilaku dan bersikap tegas dengan tetap menjaga suasana
persahabatan (win-win). Mengenai
kepribadian driver, penulis
memberikan detail penjelasannya mulai dari pembentukan perilaku hingga
manajemen dan cara berpikir pada tengah hingga akhir bab buku ini.
Mengutip contoh kehidupan para samurai Jepang, disiplin
dan kehormatan diri adalah modal awal menjadi driver. Disiplin adalah sebuah komitmen, meski sesuatu berubah,
kalau kita berkomitmen maka kita selalu siap menghadapi dan memenuhinya (Hal. 112-114).
Etos kerja disiplin melekat pada kepribadian
seorang driver, baik disiplin itu
berasal dari forced discipline
(disiplin karena paksaan dari luar) maupun self-discipline
(kemampuan yang memungkinkan orang untuk bertindak tanpa terganggu oleh keadaan
emosi) - Hal. 119. Perilaku disiplin akan sempurna ketika dibarengi dengan
keberanian mengambil resiko. Seorang pengambil resiko bersedia membayar biaya
(pengorbanan) dan menerima konsekuensi tindakannya. Ia merupakan tipe orang
yang tidak mencari aman dan menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dilakukan dapat
mencapai keberhasilan atau justru sebaliknya. Selanjutnya, seorang driver perlu memiliki mental juara. Dia akan
selalu berusaha menjadi winner (play to win). Winner tercermin dari kemampuan
mengambil tindakan penyelesaian masalah, proaktif, dan bisa menampakkan
kemajuan serta keberhasilan. Winner masuk
dalam kategori orang yang telah memberdayakan kemampuan berpikirnya guna
menganalisis persoalan.
The power
of simplicity, kesederhanaan
memberikan kemudahan. Melengkapi perilaku driver
lainnya, seorang driver adalah manusia
yang mampu berpikir simple, tidak ribet, dan memangkas kompleksitas birokrasi. Penulis
menekankan bahwa membuat sesuatu menjadi simple bukanlah hal yang mudah, perlu
kerja keras dan pemikiran mendalam. Apabila pemikiran dan tindakan sederhana
tersebut dapat terbentuk, seorang driver
akan lebih mudah, cepat, dan efisien untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Sesuatu yang sederhana memperjelas dan mendekatkan pada keberhasilan tujuan.
Mendekati bab akhir, penulis mengangkat kembali isu pentingnya
kemampuan berpikir namun dengan uraian yang lebih komprehensif. Creative thinking, critical thinking, dan growth
mindset merupakan 3 cara berpikir
yang diperlukan driver. Creative thinking yang berpusat di otak
kanan dan critical thinking yang
berpusat di otak kiri akan berperan optimal apabila difungsikan secara seimbang.
Keseimbangan itu akan menghasilkan driver
yang berpendidikan tinggi namun tetap berpikir kritis dan berpendirian kuat.
Kreativitas sendiri tidak bisa dipisahkan dari
pengetahuan. Pengetahuan menghasilkan referensi (apa yang pernah dilakukan)
sedangkan kreativitas mendorong orang untuk menjelajahi terra incognita, sebuah ‘kawasan’ baru yang belum terpetakan (Hal.
196). Adapun kehadiran critical thinking
menunjukkan kemampuan driver dalam
melakukan proses reflektif, mengkaji setiap informasi yang diterima dengan
bukti-bukti yang kuat (Hal. 220). Terakhir, growth
mindset merupakan cara berpikir yang berfungsi untuk mengatasi fixed mindset. Pada saat kondisi yang
dihadapi selalu bebas dari kesulitan dan keberhasilan mudah diraih, saat itulah
terbentuk fixed mindset (Hal. 232). Cara
berpikir yang fixed menyebabkan
seseorang tidak siap menghadapi tantangan yang berisiko terjadi kesalahan dan
kegagalan. Transformasi fixed mindset
menjadi growth mindset dilakukan
dengan cara mengembangkan kemampuan otak berupa mempersiapkan diri terhadap
segala kemungkinan yang terjadi. Orang yang memiliki growth mindset melakukan pekerjaan dengan kesadaran diri dan sepenuh
hati sehingga tidak mudah frustrasi.
Seluruh perilaku dan cara berpikir ala driver bukan merupakan bakat alam atau
bawaan lahir. Setiap orang dapat menumbuhkannya melalui latihan secara
sempurna. Latihan dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan waktu terbaik untuk
memulainya adalah saat ini juga. Konsistensi serta tak kenal menyerah akan
menjadi penyempurna latihan menuju good
driver.
Menuntaskan uraiannya, penulis mengingatkan lagi bahwa
executive functioning berupa
pembentukan mental semasa muda merupakan momentum pembangunan fondasi sebagai good driver. Executive functioning diaktifkan melalui 3 elemen psikologis yaitu inhibitory control (tahu dan tidak
melakukan apa yang tidak boleh diucapkan/dilakukan) dan self-regulation (meregulasi diri), working memory (kemampuan menata informasi dengan tanggap dalam
memori), dan cognitive flexibility
(kemampuan beradaptasi) – Hal. 249-250. Menuju good driver dapat
diwujudkan jika kita melangkah mengikuti petunjuk arahnya (memenuhi persyaratan
perilaku driver). Perubahan tentu dapat
terjadi apabila kita bersedia untuk bergerak.
Seakan kita disadarkan siapa diri kita saat ini,
sudahkah mencapai kedudukan sebagai driver?
Ataukah sebenarnya masih menikmati posisi passenger?
Itulah yang dapat diperoleh dengan membaca buku Self Driving. Penulis mampu menyajikan sebuah peta menuju driver atau passenger, meskipun, secara tegas menuntun pada jalan menjadi good driver. Untuk meyakinkan pembaca, penulis
mengangkat seluruh aspek positif good
driver dan langsung menegasikan pilihan lainnya yaitu bad driver, good passenger,
dan bad passenger. Kritik utama
peresensi terhadap buku ini yaitu terlewatkannya penjelasan yang aplikatif bagaimana
seorang good driver merubah individu
sekelilingnya yang berkarakter passenger
untuk menjadi driver. Penulis
terkesan mengutarakan memulai menuju good
driver tanpa kejelasan kondisi awalnya sebagai bad driver atau masih pada taraf passenger. Dibandingkan serial perubahan sebelumnya, penjelasan
berbagai tindakan nyata dalam mengubah sebuah distress company menjadi perusahaan yang solid dapat dengan mudah
ditangkap oleh pembaca. Kritik minor lainnya hanya pada alur pemaparan yang
kurang terstruktur. Dalam beberapa sub judul, penulis terkesan tidak
menuntaskan penjelasannya dan melompat ke ide lainnya di luar sub judul. Bisa
jadi, penulis hendak mengalirkan seluruh idenya secara lugas sehingga sedikit
mengabaikan pengelompokkan dan penempatan ide sesuai batasan judul bab.
Secara keseluruhan, peresensi menilai buku Self Driving layak untuk dibaca seluruh
kalangan, mengingat perubahan merupakan keniscayaan setiap orang dalam rangka
memperbaiki diri. Rekomendasi kuat untuk membaca buku ini kepada individu yang
berkarir pada suatu institusi yang mapan (established
organization). Mengingat, pada institusi-institusi itulah kesadaran
seseorang untuk mengarahkan hidupnya menjadi driver justru seringkali menurun karena
kenyamanan yang telah direngkuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar