Era
globalisasi telah mengantar kehidupan pada pola pikir baru yang berbeda dengan pola
pikir terdahulu. Berbagai perubahan, pembaharuan, dan kemajuan dalam aspek-aspek
kehidupan era ini menjadi pemicu utama pembentukan pola pikir anyar tersebut. Globalisasi
memang menuntut setiap orang untuk lebih dinamis, bersedia merubah diri, menyesuaikan
dengan setiap kondisi yang ada demi keberhasilan hidupnya. Namun, disadari atau
tidak, perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada hal-hal yang mempunyai
faedah positif tetapi juga pada prinsip hidup yang seharusnya tidak tergoyahkan
oleh zaman. Globalisasi membawa banyak manusia kepada perubahan cara pandang
dalam menilai kualitas sesamanya. Kualitas seseorang yang seharusnya dinilai
dari perilaku, sikap, dan perannya di masyarakat, saat ini seringkali dinilai
dari kepemilikan atas materi.
Kondisi
sehari-hari menunjukkan bahwa orang yang memiliki materi lebih banyak daripada
yang lain akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi dari masyarakat. Kaum haves ini mendapat kedudukan terbaik di
lingkungannya karena ukuran keberhasilan memperoleh materi dianggap sebagai
prestasi yang paling layak untuk dihargai. Perilaku demikian telah dianggap sebagai
sesuatu yang lumrah sehingga pada akhirnya perlombaan untuk meraih prestasi
materi menjadi bagian dari keseharian aktivitas hidup.
Fakta
paling mudah untuk menjadi contoh bahwa globalisasi membawa orientasi
berlebihan pada materi (hedonisme) dapat dilihat dari efek lanjutan perkembangan
teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi yang merupakan salah satu ciri khas
globalisasi telah menjadi alat pengendali arah kehidupan masyarakat. Saat ini,
sebagian besar masyarakat telah berpandangan bahwa teknologi merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Terjadi suatu ketergantungan
terhadap hasil teknologi, sepertihalnya telepon genggam atau komputer tablet,
untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Benda canggih (gadget) dimaksud sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Akibat
selanjutnya, upaya memiliki gadget
menjadi prioritas pembelanjaan, meskipun harus mengeluarkan biaya besar dan
mengorbankan kebutuhan penting lainnya. Namun, fenomena kepemilikan gadget tidak hanya berhenti pada alasan kebutuhan
tetapi juga bergerak ke arah peningkatan gengsi untuk mengangkat harga diri. Seseorang
akan merasa malu bahkan menjadi rendah diri ketika tidak dapat memiliki gadget yang sedang trend di khalayak ramai. Konsekuansi pergerakan teknologi tersebut menggambarkan
kondisi lingkungan yang mempunyai kekuatan dalam membentuk pribadi hedonis. Masyarakat
tidak boleh terlena dengan situasi dimaksud, mengingat arah kehidupan dengan
berbagai tekanannya sebenarnya masih berada pada kendali manusia sendiri.
Adagium
kaum modern bahwa “semuanya berubah kecuali perubahan itu sendiri” tidak dapat
terima kebenarannya secara mutlak. Pada hakekatnya, banyak hal yang tidak perlu
atau bahkan tidak boleh berubah di tengah kondisi apapun. Kewajiban saling
tolong menolong dalam kebaikan, menjaga sikap untuk tidak sombong, saling
menghormati antar sesama, atau keharusan mengutamakan kepentingan bersama
merupakan beberapa contoh dari sekian banyak prinsip hidup yang tidak lekang
oleh waktu. Dalam hal prinsip dasar hidup tersebut berubah, bukan kemajuan yang
didapat namun justru kemunduran peradaban yang terjadi. Kesadaran
bahwa harga diri setiap orang seharusnya dinilai dari peran dan manfaatnya bagi
orang lain perlu terus ditumbuhkan. Pengendalian diri merupakan kunci sukses
agar arus kemajuan zaman yang mengikutsertakan hedonisme sebagai aksesoris
utama tidak menjerumuskan manusia menjadi makhluk materialistis. Pemahaman
bahwa manusia hidup di lingkungan ekonomi yang heterogen wajib mengakar
pada diri setiap orang. Orientasi
materialisme harus ditekan dan kepekaan terhadap kondisi sosial ekonomi
masyarakat terus dikembangkan. Dengan demikian, kecemburuan sosial yang dapat
melahirkan banyak permasalahan dapat dicegah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar