Selasa, 26 Juni 2018

Pengendalian Diri Menghadapi Orientasi Materi


Era globalisasi telah mengantar kehidupan pada pola pikir baru yang berbeda dengan pola pikir terdahulu. Berbagai perubahan, pembaharuan, dan kemajuan dalam aspek-aspek kehidupan era ini menjadi pemicu utama pembentukan pola pikir anyar tersebut. Globalisasi memang menuntut setiap orang untuk lebih dinamis, bersedia merubah diri, menyesuaikan dengan setiap kondisi yang ada demi keberhasilan hidupnya. Namun, disadari atau tidak, perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada hal-hal yang mempunyai faedah positif tetapi juga pada prinsip hidup yang seharusnya tidak tergoyahkan oleh zaman. Globalisasi membawa banyak manusia kepada perubahan cara pandang dalam menilai kualitas sesamanya. Kualitas seseorang yang seharusnya dinilai dari perilaku, sikap, dan perannya di masyarakat, saat ini seringkali dinilai dari kepemilikan atas materi. 
Kondisi sehari-hari menunjukkan bahwa orang yang memiliki materi lebih banyak daripada yang lain akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi dari masyarakat. Kaum haves ini mendapat kedudukan terbaik di lingkungannya karena ukuran keberhasilan memperoleh materi dianggap sebagai prestasi yang paling layak untuk dihargai. Perilaku demikian telah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah sehingga pada akhirnya perlombaan untuk meraih prestasi materi menjadi bagian dari keseharian aktivitas hidup.
Fakta paling mudah untuk menjadi contoh bahwa globalisasi membawa orientasi berlebihan pada materi (hedonisme) dapat dilihat dari efek lanjutan perkembangan teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi yang merupakan salah satu ciri khas globalisasi telah menjadi alat pengendali arah kehidupan masyarakat. Saat ini, sebagian besar masyarakat telah berpandangan bahwa teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Terjadi suatu ketergantungan terhadap hasil teknologi, sepertihalnya telepon genggam atau komputer tablet, untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Benda canggih (gadget) dimaksud sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Akibat selanjutnya, upaya memiliki gadget menjadi prioritas pembelanjaan, meskipun harus mengeluarkan biaya besar dan mengorbankan kebutuhan penting lainnya. Namun, fenomena kepemilikan gadget tidak hanya berhenti pada alasan kebutuhan tetapi juga bergerak ke arah peningkatan gengsi untuk mengangkat harga diri. Seseorang akan merasa malu bahkan menjadi rendah diri ketika tidak dapat memiliki gadget yang sedang trend di khalayak ramai. Konsekuansi pergerakan teknologi tersebut menggambarkan kondisi lingkungan yang mempunyai kekuatan dalam membentuk pribadi hedonis. Masyarakat tidak boleh terlena dengan situasi dimaksud, mengingat arah kehidupan dengan berbagai tekanannya sebenarnya masih berada pada kendali manusia sendiri.  
Adagium kaum modern bahwa “semuanya berubah kecuali perubahan itu sendiri” tidak dapat terima kebenarannya secara mutlak. Pada hakekatnya, banyak hal yang tidak perlu atau bahkan tidak boleh berubah di tengah kondisi apapun. Kewajiban saling tolong menolong dalam kebaikan, menjaga sikap untuk tidak sombong, saling menghormati antar sesama, atau keharusan mengutamakan kepentingan bersama merupakan beberapa contoh dari sekian banyak prinsip hidup yang tidak lekang oleh waktu. Dalam hal prinsip dasar hidup tersebut berubah, bukan kemajuan yang didapat namun justru kemunduran peradaban yang terjadi. Kesadaran bahwa harga diri setiap orang seharusnya dinilai dari peran dan manfaatnya bagi orang lain perlu terus ditumbuhkan. Pengendalian diri merupakan kunci sukses agar arus kemajuan zaman yang mengikutsertakan hedonisme sebagai aksesoris utama tidak menjerumuskan manusia menjadi makhluk materialistis. Pemahaman bahwa manusia hidup di lingkungan ekonomi yang heterogen wajib mengakar pada  diri setiap orang. Orientasi materialisme harus ditekan dan kepekaan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat terus dikembangkan. Dengan demikian, kecemburuan sosial yang dapat melahirkan banyak permasalahan dapat dicegah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar